BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gedung Olaharaga umumnya di sebut dengan ”Gelanggang”, merupakan
sebuah wadah atau tempat yang dikhususkan untuk mewadahi sebuah kegiatan
olahraga, biasanya istilah gelanggang dipakai untuk sebuah tempat untuk
cabang olahraga. Seperti : Gelanggang Renang, Gelanggang Futsal dapat juga
sebagai tempat berkumpulnya sebuah kegiatan. Seperti : Gelanggang Remaja.
Istilah gelanggang ini memiliki kesan luas, dan sering terjadinya suatu
kegiatan. Gelanggang harus memiliki lebih dari sekedar penyediaan wadah
saja, karena jika tidak memiliki fungsi tambahan lain yang dapat mendukung
maka tidak bisa disebut gelanggang. Gelanggang seharusnya memiliki fasilitas
atau penyediaan untuk memenuhi kegiatan lain yang mendukung atau
berhubungan dengan fungsi utama bangunan, maka dari itu dinamakan sebuah
gelanggang. Gelanggang lebih bersifat jamak atau menunjukan arti lebih dari
satu, pengertian ini bersifat sebuah tempat yang menyediakan lebih dari satu
kegiatan atau fungsi yang mengacu pada kegiatan utama.Gelanggang bersifat
spesifik dan khusus, yaitu tidak menampung kegiatan diluar dari batasannya.
Dan biasanya memiiki nama yang langsung menggunakan kata sesuatu fungsi
kegiatan utama. Misalnya : Gelanggang tinju, hanya menampung kegiatan tinju
saja dan menampung kegiatan yang lain yang berhubungan dengan tinju
seperti, ruang tekniknya, ruang kesehatannya, dan bukan arena tinju saja.
Gelanggang olahraga atau yang biasanya disebut dengan GOR.
GOR ini memiliki ciri tersendiri atau identik dengan bangunan yang memiliki
bentang lebar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas terdapat permasalahan yang perlu dikaji lebih lanjut
yaitu :
1. Apa pengertian Gedung olah raga ?
2. Bagaimana fungsi dari Gedung olah raga ?
3. Manfaat gedung olah raga bagi pengguna ?
4. Bagaimana klasifikasi gedung olahraga ?
5. Fasilitas pendukung gedung olahraga ?
C. Tujuan
Tujuan penulis melakukan penulisan ilmiah ini :
a. Mengetahui bahwa gedung olah raga merupakan suatu tempat khusus yang
mewadahi kegiatan olahraga, yang memiliki fasilitas yang mendukung
dari kegiatan olahraga.
b. Mengetahui fungsi dari Gedung olah raga yaitu sebagai pendukung
pelaksanan suatu kegiatan terutama dalam pengajaran olahraga.
c. Dapat mengetahui manfaat gedung olahraga. d. Mengetahui klasifikasi gedung olahraga
e. Mengetahui fasilitas pendukung gedung olahraga
D. Manfaat
a. Memanfaatkan gedung olahraga untuk mengembangkan potensi
mahasiswa dalam bidang olahraga
b. Memanfaatkan gedung olahraga sebagai pendukung pelaksanaan dalam
bidang olahraga
c. Memanfaatkan gedung olahraga sebagai tempat khusus dan fasilitas yg
ada dalam pelaksanaan suatu kegiatan olahraga
d. Memanfaatkan gedung olahraga sebagai tempat berlatih atau membina
para atlet-atlet muda
e. Manfaat gedung olahra juga bisa menjadi bangunan serba guna.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gedung Olahraga
Gedung olahraga adalah suatu bangunan gedung yang digunakan berbagai
kegiatan olahraga yang biasa dilakukan dalam ruangan tertutup atau dapat di
artikan pula Gedung Olaharaga , merupakan sebuah wadah atau tempat yang
dikhususkan untuk mewadahi sebuah kegiatan olahraga, biasanya istilah
gelanggang dipakai untuk sebuah tempat untuk cabang olahraga. Gor seharusnya
memiliki fasilitas atau penyediaan untuk memenuhi kegiatan lainyang mendukung
atau berhubungan dengan fungsi utama bangunan. Gelanggang bersifat spesik dan
khusus, yaitu tidak menampung kegiatan diluar dari batasannyaPerencanaan
gedung olahraga termasuk lapangannya,harus mengikuti persyaratan teknis
keolahragaan yang ditetapkan oleh organisasi cabang olahraga nasional dan
internasional.2.3 Peruntukan gedung olahragaPeruntukan gedung olahraga ini
untuk melakukan kegiatan olahraga dalam ruang tertutupseperti tenis, bola basket,
bola voli, dan buku tangkis, dengan batasan bahwa kegiatantersebut tidak
melampaui keyentuan teknis.2. !egiatan serba Guna"angunan gudung olahraga
dapat digunakan untuk keperluan lain selain olahraga
Keberadaan gedung olah raga berawal dari didirikannya stadion
(colloseum) untuk memenuhi kebutuhan fasilitas keagamaan dan social pada
jaman Yunani.Pada masa itu, stadion biasanya berbentuk segi empat dan tidak
beratap atau hanya beratap sebagian yaitu di atas tempat duduk penonton.Pada
jaman Romawi dikenal adanya ‘Amphitheater’ yang dapat dikatakan sebagai pengembangan bangunan stadion dan merupakan penggabungan antara teater
dan fasilitas pertandingan.Berarti telah ada pemikiran penggunaan gedung olah
raga untuk keiatan olah raga dan hiburan. Seiring dengan kemajuan teknologi,
sekitar abad 20 dapat dibuat gedung besar yang seluruhnya beratap yaitu
Astrodome, Houston, Texas. Pemanfaatan gedung olah raga juga berkembang
menjadi bangunan serba guna, dengan menyediakan berbagai macam fasilitas
penunjang
B. Fungsi Gedung Olahraga
Dengan berdirinya Gedung OlagRaga maka Kegiatan olah raga
memerlukan ruang untuk bergerak.Kebutuhan ruang untuk bergerak itu
ditentukan dengan standar tuang ruang perorangan.Sarana prasarana olah raga
paling sedikit atau minimal disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang
berolah raga itu sendiri.Sehingga disini kunci dan tujuan sarana prasarana
adalah sehingga media olah raga yang diharapkan dengan adanya sarana
penunjang kegiatan olah raga berjalan dengan baik.Sehingga masyarakat dapat
menikmati olahraga dengan baik dan optimal.
Fungsi dari Gedung OlahRaga untuk modal utama dalam penyelenggaraan
kegiatan olahraga, melalui peningkatan ketersediaan fasilitas olahraga yang
berkualitas baik dan memadai dalam artian harus di sesuaikan dengan standart
keutuhan ruang perorangan.
C. Manfaat Adanya Gedung Olahraga
Dengan adanya Gedung OlahRaga, sumber daya pendukung yang terdiri
dari segala bentuk dan jenis peralatan serta perlengkapan yang digunakan
dalam kegiatan olah raga.Prasarana olah raga adalah sumber daya pendukung
yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk bangunan di atasnya dan batas
fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk
pelaksanaan program kegiatan olah raga.Dari beberapa pengertian di atas yang
baik.
D. Klasifikasi gedung olahraga
Klasifikasi Gedung Olah Raga Klasifikasi dan penggunaan bangunan
gedunmg olah raga Type A • menyediakan minimal: 1 lapangan bola basket 1
lapangan bola voli 5 lapangan buku tangkis 1 lapangan tennis • ukuran minimal
hall : 50 x 30 dengan tinggi 12,5 m • kapasitas penonton : diatas 3.000 orang
Type B • menyediakan minimal:1 lapangan bola basket 1 lapangan bola voli 3
lapangan buku tangkis • ukuran minimal hall : 32 x 22 dengan tinggi 12,5 m •
kapasitas penonton : 1000 – 3.000 orang Type C • menyediakan minimal: 1
lapangan bola basket 1 lapangan bola voli • ukuran minimal hall : 24 x 16
dengan tinggi 9 m • kapasitas penonton : 1000 orang. Berdasarkan skala
pelayanannya, gedung olah raga dibagi atas : 1. Skala Nasional Fasilitas olah
raga ini menampung atau melayani kegiatan-kegiatan di antaranya kpmpetisi
utama, pertandingan, latihan dan mengajar dengan standar internasional seperti
PON, Sea Games, dan sejenisnya. Contoh : Gedung Istora Senayan Jakarta 2.
Skala Regional Fasilitas olah raga yang melayani satu atau beberapa daerah denga populasi sebesar 200.000 sampai dengan 350.000 penduduk dan
merupakan fasilitas pelengkap di suatu daerah atau wilayah.Contoh :
Gelanggang Olah Raga Penjaringan Gelanggang Olah Raga Grogol. 3. Skala
Lingkungan Fasilitas olah raga yang melayani satu lingkungan, dalam hal ini
lingkungan pemukiman dngan populasi 2.000 sampai dengan 10.000 orang,
dan biasannya disediakan dalam suatu kompleks perumahan sebagai satu
pelengkap sarana. Contoh : Kelapa Gading Sport Club di kompeks perumahan
Kelapa Gading. Bimantara Sport Club di kompleks perumahan Green
Village.Persada Sport Centre di kompleks AURI Halim.4. Skala Sekolahan
Fasilitas olah raga ini melayani olah raga di suatu sekolahan, biasanya
berbentuk aula, serbaguna dan dapat berbentuk lapangan terbuka serta
digunakan hanaya untuk latihan olah raga standar saja.5. Skala Khusus
Fasilitas olah raga yang menangani olah raga jenis tertentu yang sifatnya
komersial atau yang diperuntukkan khusus bagi penyandang cacat, biasanya
dibentuk oleh pihak swasta.
E. Fasilitas Pendukung Gedung Olahraga
a. Ruang ganti pemain (atlet)
GOR tipe A dan B harus dilengkapi dengan ruang ganti pemain (atlet)
masing-masing minimum 2 unit, dapat langsung menuju lapangan, dan
harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut:
a. Toilet minimum 2 buah bak cuci tangan (washtafel) dan cermin, 4
buah peturasan dan 4 buah close
b. Ruang bilas minimum 4 buah shower dengan air panas;
c. Ruang ganti pakaian lengkap dengan tempat simpan benda-benda
dan pakaian atlet minimum 20 kotak simpan (locker), dan minimum
20 tempat duduk;
d. Ruang ganti harus cukup luas dan tersedia tempat untuk pelatif
memberi pengarahan (breafing)kepada atlet/pemain;
e. 1 unit toilet khusus untuk penyandang cacat (diffable), dengan 1
buah closet, 1 urinoir, 1 buah washtafel dan bangku
GOR tipe C harus dilengkapi dengan ruang ganti pemain (atlet)
minimum 2 unit, harus dapat langsung menuju lapangan, dan masing- masing harus dilengkapi dengan fasilitas sebagai berikut
a. Toilet lengkap dengan minimum 2 buah washtafel dan cermin, 2
buah peturasan (urinoir) dan 2 buah closet;
b. Ruang bilas lengkap dengan minimum 2 buah shower dengan air
panas;
c. Ruang ganti pakaian lengkap dengan tempat simpan benda-benda
dan pakaian atlet minimum 10 kotak simpan (locker) dan minimum
tempat duduk; dan
d. 1 unit toilet khusus untuk penyandang cacat (diffable), lengkap
dengan 1 buah closet, 1 urinoir, 1 buah washtafel, dan bangku.
b. Ruang ganti pelatih dan wasit
a) Gedung olahraga tipe A dan B harus dilengkapi dengan ruang ganti
pelatoh dan wasit masing-masing 2 unit untuk pelatih dan 1 unit untuk wasit, harus dapat langsung menuju lapangan. Setiap unit ruang ganti
minimum dilengkapi fasilitas sebagai berikut:
1) 1 buah bak cuci tangan (washtafel);
2) 1 buah closet;
3) 1 buah ruang bilas (shower;
4) 1 buah ruang simpan yang dilengkapi 3 buah kotak simpan (locker);
dan
5) 3 tempat duduk.
b) Gedung olahraga tipe C diperkenankan tanpa ruang ganti khusus untuk
pelatih dan wasit.
c. Ruang Massage dan Fisioterapi
Gedung olahraga tipe A dan B harus dilengkapi dengan ruang Massage dan
Fisioterapi masing-masing dengan luas minimum 12 m2, dilengkapi dengan:
1) 2 buah meja Massage dan Fisioterapi;
2) 1 buah bak cuci tangan (washtafel); dan
3) 1 buah closet.
d. Ruang medis
1) Ruang medis untuk gedung olahraga tipe A dan B
Gedung olahraga tipe A dan B harus dilengkapi dengan minimum 1 unit
ruang medis dengan luas minimu 18 m2
, lokasi harus berada dekat
dengan ruang ganti yang dilengkapi dengan:
a) 2 tempat tidur untuk pemeriksaan dan perawatan sementara;
b) 1 bak cuci tangan (washtafel); dan
c) 1 buah closet.
Lokasi ruang medis harus dapat dicapai oleh diffable.
2) Ruang medis untuk gedung olahraga tipe C
Ruang medis untuk gedung olahraga tipe C harus dilengkapi dengan:
a) 1 tempat tidur untuk pemeriksaan atau perawatn sementara;
b) 1 bak cuci tangan (washtafel);
c) 1 buah closet.
Lokasi ruang medis harus dapat dicapai oleh diffable.
e. Ruang tes dopping
a) Ruang tes doping gedung olahraga tipe A dan B minimum harus
dilengkapi dengan:
1) 1 buah bak cuci tangan (washtafel);
2) 1 buah toilet didalamnya terdapat 1 buah closet, dengan luas cukup
untuk menampung seorang pengawas;
3) Ruang tunggu dilengkapi dengan kursi/bangku; dan
4) Ruang pemeriksaan sampel serta tempat simpan.
b) Gedung olahraga tipe C diperbolehkan tanpa ruang tes doping.
c) Lokasi ruang tes doping harus dapat dicapat oleh diffable.
f. Ruang Pemanasan
Ruang pemanasan harus disediakan dengan memperhatikan tipologi
dan penggunaan gedung olahraga sebagai berikut:
a) Gedung olahraga tipe A dan B masing-masing dibuat ruang pemanasan
sesuai kebutuhan cabang olahraga.
b) Gedung olahraga tipe C dapat disediakan diluar gedung.
c) Ruang latihan beban
Gedung olahraga harus dilengkapi dengan ruang latihan beban dengan
ketentuan sebagai berikut:
a) Gedung olahraga tipe A luas minimum 160 m2
b) Gedung olahraga tipe B luas minimum 80 m2
c) Gedung olahraga tipe C diperbolehkan tanpa ruang latihan beban.
Apabila gedung olahraga tipe A atau tipe B berada disebuah komplek
olahraga dan terdapat sebuah ruang latihan beban dengan luas minimum
memenuhi ketentuan tersebut dan dapat dipergunakan bersama, maka
kelengkapan ruang latihan beban pada masing-masing gedung olahraga
dapat ditiadakan.
g. Ruang rehat pemain (player’s lounge)
Gedung olahraga harus dilengkapi dengan ruang rehat pemain dengan
ketentuan sebagai berikut:
a) Gedung olahraga tipe A dengan luas minimum 60 m2 dilengkapi dengan
toilet;
b) Gedung olahraga tipe B dengan luas minimum 40 m2 dilengkapi dengan
toilet; dan
c) Gedung olahraga tipe C dengan luas minimum 20 m2 dilengkapi dengan
toilet.
Lokasi ruang rehat pemain harus dapat dicapai dengan mudah oleh diffable
Kamis, 16 Mei 2019
SARANA DAN PRASARANA BERUPA BAGUNAN KOLAM RENANG. KELOMPOK 9
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmatnya dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Salam sertashalawat tak lupakitapanjatkankepadajunjunganalam, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawakan kita dari alam gelap gulita, menuju alam seperti sekarang ini.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini yang membahas mengenai “Sarana dan Prasarana Berupa Bangunan Kolam Renang” yang bertujuan untuk memperdalam ilmu kita.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki. Namun demikian banyak pula pihak yang yang telah telah membantu kami dengan menyediakan sumber informsi, memberikan masukan pemikiran, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan orang banyak.
Makassar, Februari 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
D. Manfaat 2
BAB IIPEMBAHASAN…………………………………………………………3
A Perbedaan Kata Sarana dan Kata Prasarana Dalam Olahraga............................3
B. Jenis-Jenis Sarana Dalam Olahraga Renang…..................................................3
C.Prasarana dalam Olahraga Renang …………………………………..…...........4
BAB IIIPENUTUP 8
A. Kesimpulan 8
B. Saran 9
DAFTAR PUSTAKA 10
BAB I
PENDAHULUAN
LatarBelakangMasalah
Saranaprasaranasecaraumumbanyakdiartikanmenurutbeberapasumber. Saranaadalahperlengkapan yang dapatdipindah-pindahkanuntukmendukungfungsikegiatandansatuanpendidikan, yang meliputi :peralatan, perabotan, media pendidikandanbuku (Internet menurutAsep). Saranaadalahsegalasesuatu yang dipakaisebagaialatdalammencapaimakanadantujuan.
Prasaranaadalahsegalasesuatu yang merupakanpenunjangutamaterselenggaranyasuatuproses(KamusBesarBahasa Indonesia). Saranaprasaranaadalahalatsecarafisikuntukmenyampaikanisipembelajaran (Sagnedan Brigs dalamLatuheru, 1988:13). Dari berbagaidefinisimenurut para ahlidapatdiartikanbahwasaranaprasaranaadalahsumberdayapendukung yang terdiridarisegalabentukjenisbangunan/tanpabangunanbesertadenganperlengkapannyadanmemenuhipersyaratanuntukpelaksanaankegiatan.
Saranaprasaranaolah raga adalahsuatubentukpermanen, baikituruangan di luarmaupun di dalam. Contoh :cymnasium, lapanganpermainan, kolamrenang, dsb. (Wirjasanto 1984:154). Pengertiansaranaprasaranatidakseperti yang di atas, namunadabeberapapengertian lain menurutsumber yang berbeda pula.
Saranaprasarana olaraga adalahsemuasaranaprasaranaolah raga yang meliputisemualapangandanbangunanolah raga besertaperkengkapannyauntukmelaksanakan program kegiatanolah raga (Seminar PrasaranaOlah Raga UntukSekolahdanHubungannyadenganLingkungan (1978).
RUMUSAN MASALAH
Apa perbedaan sarana dan prasarana olahraga renang?
jenis-jenis sarana olahraga renang?
Apa saja Prasarana Olahraga Renang?
TUJUAN
Untuk mengetahui perbedaan sarana dan prasarana olahraga renang.
Untun membedakan jenis-jeis sarana olahraga renang
Untuk mengetahui Prasarana Olahraga Renang.
MANFAAT
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan pembaca.
Dapat mengetahui sarana dan prasarana yang standar
Dapat dijadikan bahan pembelajaran disekolah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan Kata Sarana dan Kata Prasarana Dalam Olahraga
Sarana dan Prasarana dalam olahraga renang itu berbeda. Biasanya kita langsung menyebutnya menjadi 1 buah kalimat yaitu sarana dan prasarana, sebenarnya itu adalah dua hal yang sangat berbeda,
Sarana adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan, di fungsikan untuk mempermudah proses pertandingan, dimana alat-alat tersebut mudah berpindah tangan.
Prasarana adalah Penunjang sarana untuk mempermudah kegiatan olahraga yang tidak di pindahkan
B. Jenis-Jenis Sarana Dalam Olahraga Renang
Berikut beberapa sarana yangdiperlukan untuk berenang
Pakaian Renang
pakaian renang wajib digunakan oleh atlet-atlet renang yang akan mengikuti kompetisi renang. Pakaian renang juga digunkan ketika berlatih renang.
Papan Pelampung
papan pelampung berguna untuk berlatih meluncur dan mengapung diatas air bagi anda yang sedang berlatih renang . jika anda sudah mahir berenang papan pelampung sudah tidak diperlukan lagi
Alat Bantu Bernapas
Alat bantu pernapasan digunakan oleh orang yang baru belajar berenang dan penyelam.
Bagian Dalam Ban Moil Bekas
ban berguna untuk belajar mengambang dan terapung ketika berada didalam air
Kecamata Renang
kecamata renang digunakan agar mata tidak terkena air ketika berenang
Pelampung Kaki Dan Sepatu Katak
C. Prasarana dalam Olahraga Renang
kolam Renang
Panjang kolam renang lintasan panjang adalah 50 m sementara lintasan pendek adalah 25 m. Dalam spesifikasi Federasi Renang Internasional untuk kolam ukuran Olimpiade ditetapkan panjang kolam 50 m dan lebar kolam 25 m. Kedalaman kolam minimum 1,35 meter, dimulai dari 1,0 m pertama lintasan hingga paling sedikit 6,0 m dihitung dari dinding kolam yang dilengkapi balok start. Kedalaman minimum di bagian lainnya adalah 1,0 m.
Tipologi Kolam Renang
Tipologi Kolam Renang
No
Uraian
Tipe A
Tipe B
Tipe C
1
Kolam utama
10 litasan
8 lintasan
8 lintasan
2
Kolam loncat indah
Standar
Standar
Standar
3
Kolam pemanasan
50 m 8 lintasan
25 m 8 lintasan
Menyesuaikan
4
Kolam latihan
Seperti tipe B
Seperti tipe C
Menyesuaikan
5
Fasilitas atlet dan ofisial
Standar nasional kolam renang
Standar nasional kolam renang
Standar nasional kolam renang
6
Fasilitas pengelolaan pertandingan
Standar nasional kolam renang
Standar nasional kolam renang
Menyesuaikan
7
Kapasitas penonton
2000-3000 orang
1000-2000 orang
Menyesuaikan
Lokasi
Pemilihan lokasi
Lokasi harus sesuai rencana tata ruang wilayah Kabupaten/kota atau berbasis pada rencana pembangunan kota yang berkelanjutan
Area disekitar lokasi bangunan bangunan kolam renang harus tersedia system infrastruktur kota yang memadai antara lain transportasi, listrik, air bersih, saluran kota dan telekomunikasi
wilayah lokasi bangunan kolam renang harus tersedia kolam renang fasilitas akomodasi (hotel) dan rumah sakit yang memadai dengan waktu tempuh maksimal 2 (dua) jam perjalanan
Luas lahan tersedia
Koefisien dasar bangunan (KDB) maksimum 30%, sehingga masih terdapat lahan yang tersedia untuk arena kegiatan olahraga di ruang terbuka (outdor), area evakuasi kondisi darurat, taman, penghijauan, pedestrian, jalan dan fasilitas parkir.
Topografi
Lahan yang tersedia harus merupakakan sebidang tanah yang rata sesuai dengan kebuthan untuk pembangunan kolam renang tipe tertentu yang direncanakan
Kondisi umum tanah tidak boleh memiliki kemiringan yang ekstrem, daya dukung tanah yang baik, tidak labil, dan tidak rawan longsor
kelestarian lingkungan
pembangunan kolam renang tidak boleh berdampak pada kerusakan atau penurunan kualitas lingkungan
lingkungan kolam renang harus dapat menjadi area penghijauan dan berfungsi sebagai paru-paru kota serta mampu memberikan konstribusi positif pada suku Kawasan atau kota
Lintasan
Lebar lintasan paling sedikit 2,5 m dengan jarak paling sedikit 0,2 m di luar lintasan pertamadanlintasanterakhir. Masing-masing lintasan dipisahkan dengan tali lintasan yang sama panjang dengan panjang lintasan. Tali lintasan terdiri dari rangkaian pelampung berukuran kecil pada seutas tali yang panjangnya sama dengan panjang lintasan. Pelampung pada tali lintasan dapat berputar-putar bila terkena gelombang air. Tali lintasan dibedakan menurut warna: hijau untuk lintasan 1 dan 8, biru untuk lintasan 2, 3, 6, dan 7, dan kuning untuk lintasan 4 dan 5. Perenang diletakkan di lintasan berdasarkan catatan waktu dalam babak penyisihan (heat). Di kolam berlintasan ganjil, perenang tercepat diunggulkan di lintasan paling tengah. Di kolam 8 lintasan, perenang tercepat ditempatkan di lintasan 4 (di lintasan 3 untuk kolam 6 lintasan).Perenang-perenang dengan catatan waktu di bawahnya secara berurutan menempati lintasan 5, 3, 6, 2, 7, 1, dan 8.
Balock Start
Di setiap balok start terdapat pengeras suara untuk menyuarakan tembakan pistol start dan sensor pengukur waktu yang memulai catatan waktu ketika perenang meloncat dari balok start. Tinggi balok start antara 0,5 m hingga 0,75 dari permukaan air. Ukuran balok start adalah 0,5 x 0,5 m, dan di atasnya dilapisi bahan antilicin. Kemiringan balok start tidak melebihi 10°.
persyaratan kualitas Air
a. Kualiatas kejernihan air
Air kolam harus chrystal clear dimana marka dasar kolam bisa terlihat jelas dari tepi kolam dan jarak pandang dalam air adalah 25 m horizontal dan 3 m vertical
Kejernihan air kolam harus berada pada skala kejernihan sebesar 0.2-0.5 NTU (Nephelometric Turbidity Unit)
Jumlah padatan terlarut harus lebih kecil dari 1500 ppm.
b. Kenyamanan dan kesehatan
Untuk memenuhi persyaratan kenyamanan dan kesehatan parameter yang harus dipenuhi adalah :
PH air antara 7 .2 – 7 .6;
Total alkalinitas 80 – 120 mg/L
Tingkat total kesadahan harus dikisaran 200-300 ppm;
Fasilitas pengelola kolam renang
Kantor pengelola
Gudang
Ruang mesin
Ruang pos keamanan
Ruang kantin
Tiket box
Operator sound system.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sarana dan Prasarana dalam olahraga renang itu berbeda. Biasanya kita langsung menyebutnya menjadi 1 buah kalimat yaitu sarana dan prasarana, sebenarnya itu adalah dua hal yang sangat berbeda,
Sarana adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan, di fungsikan untuk mempermudah proses pertandingan, dimana alat-alat tersebut mudah berpindah tangan.
Prasarana adalah Penunjang sarana untuk mempermudah kegiatan olahraga yang tidak di pindahkan.
Jenis-Jenis Sarana Dalam Olahraga Renang
Pakaian Renang
Papan Pelampung
Alat Bantu Bernapas
Bagian Dalam Ban Moil Bekas
Kecamata Renang
Pelampung Kaki Dan Sepatu Katak
Prasarana dalam Olahraga Renang
kolam Renang
Tipologi Kolam Renang
Lokasi
Lintasan
Balock Start
persyaratan kualitas Air
Fasilitas pengelola kolam renang.
B.Saran
Dalam penulisan makalah ini tidak dipungkiri bahwa kami tidak terdapat kesalahan, oleh karena itu apabila membaca dan memahami materi ini, diperlukan untuk memadankan dengan sumber lain, apabila terdapat kesalahan dalam penulisan kami, kritikan dan saran akan kami terima. Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki, namun demikian banyak pula pihak yang telah membantu kami dengan menyediakan sumber informasi, memberikan masukan pikiran dll.
DAFTAR PUSTAKA
HuseinUmar.(2002). RisetPemasarandanPerilakuKonsumen. Jakarta: GramediaPustakaUtama.
Agus S. Suryobroto. (2004). Diktat Mata KuliahSaranadanPrasaranaPendidikanJasmani:FakultasIlmuKeolahragaanUniversitasNegeri Yogyakarta.
Andriko Firma dan Elva Rahmah. (2012). Faktor-Faktor Yang MempengaruhiKepuasanPemustaka Di PerpustakaanKopertis Wilayah X. JurnalIlmuInformasiPerpustakaandanKearsipan (Vol. 1, No. 1). Hal 111.
YettySarjono. (2007). Faktor-faktorStrategikPelayananDosen Dan DampaknyaTerhadapKepuasanMahasiswa FKIP UniversitasMuhamadiyah Surakarta TahunAkademik 2005-2006. Varidika (Vol.1, Nomor 1 Junitahun 2007)
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmatnya dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Salam sertashalawat tak lupakitapanjatkankepadajunjunganalam, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawakan kita dari alam gelap gulita, menuju alam seperti sekarang ini.
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini yang membahas mengenai “Sarana dan Prasarana Berupa Bangunan Kolam Renang” yang bertujuan untuk memperdalam ilmu kita.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki. Namun demikian banyak pula pihak yang yang telah telah membantu kami dengan menyediakan sumber informsi, memberikan masukan pemikiran, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan orang banyak.
Makassar, Februari 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
D. Manfaat 2
BAB IIPEMBAHASAN…………………………………………………………3
A Perbedaan Kata Sarana dan Kata Prasarana Dalam Olahraga............................3
B. Jenis-Jenis Sarana Dalam Olahraga Renang…..................................................3
C.Prasarana dalam Olahraga Renang …………………………………..…...........4
BAB IIIPENUTUP 8
A. Kesimpulan 8
B. Saran 9
DAFTAR PUSTAKA 10
BAB I
PENDAHULUAN
LatarBelakangMasalah
Saranaprasaranasecaraumumbanyakdiartikanmenurutbeberapasumber. Saranaadalahperlengkapan yang dapatdipindah-pindahkanuntukmendukungfungsikegiatandansatuanpendidikan, yang meliputi :peralatan, perabotan, media pendidikandanbuku (Internet menurutAsep). Saranaadalahsegalasesuatu yang dipakaisebagaialatdalammencapaimakanadantujuan.
Prasaranaadalahsegalasesuatu yang merupakanpenunjangutamaterselenggaranyasuatuproses(KamusBesarBahasa Indonesia). Saranaprasaranaadalahalatsecarafisikuntukmenyampaikanisipembelajaran (Sagnedan Brigs dalamLatuheru, 1988:13). Dari berbagaidefinisimenurut para ahlidapatdiartikanbahwasaranaprasaranaadalahsumberdayapendukung yang terdiridarisegalabentukjenisbangunan/tanpabangunanbesertadenganperlengkapannyadanmemenuhipersyaratanuntukpelaksanaankegiatan.
Saranaprasaranaolah raga adalahsuatubentukpermanen, baikituruangan di luarmaupun di dalam. Contoh :cymnasium, lapanganpermainan, kolamrenang, dsb. (Wirjasanto 1984:154). Pengertiansaranaprasaranatidakseperti yang di atas, namunadabeberapapengertian lain menurutsumber yang berbeda pula.
Saranaprasarana olaraga adalahsemuasaranaprasaranaolah raga yang meliputisemualapangandanbangunanolah raga besertaperkengkapannyauntukmelaksanakan program kegiatanolah raga (Seminar PrasaranaOlah Raga UntukSekolahdanHubungannyadenganLingkungan (1978).
RUMUSAN MASALAH
Apa perbedaan sarana dan prasarana olahraga renang?
jenis-jenis sarana olahraga renang?
Apa saja Prasarana Olahraga Renang?
TUJUAN
Untuk mengetahui perbedaan sarana dan prasarana olahraga renang.
Untun membedakan jenis-jeis sarana olahraga renang
Untuk mengetahui Prasarana Olahraga Renang.
MANFAAT
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan pembaca.
Dapat mengetahui sarana dan prasarana yang standar
Dapat dijadikan bahan pembelajaran disekolah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan Kata Sarana dan Kata Prasarana Dalam Olahraga
Sarana dan Prasarana dalam olahraga renang itu berbeda. Biasanya kita langsung menyebutnya menjadi 1 buah kalimat yaitu sarana dan prasarana, sebenarnya itu adalah dua hal yang sangat berbeda,
Sarana adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan, di fungsikan untuk mempermudah proses pertandingan, dimana alat-alat tersebut mudah berpindah tangan.
Prasarana adalah Penunjang sarana untuk mempermudah kegiatan olahraga yang tidak di pindahkan
B. Jenis-Jenis Sarana Dalam Olahraga Renang
Berikut beberapa sarana yangdiperlukan untuk berenang
Pakaian Renang
pakaian renang wajib digunakan oleh atlet-atlet renang yang akan mengikuti kompetisi renang. Pakaian renang juga digunkan ketika berlatih renang.
Papan Pelampung
papan pelampung berguna untuk berlatih meluncur dan mengapung diatas air bagi anda yang sedang berlatih renang . jika anda sudah mahir berenang papan pelampung sudah tidak diperlukan lagi
Alat Bantu Bernapas
Alat bantu pernapasan digunakan oleh orang yang baru belajar berenang dan penyelam.
Bagian Dalam Ban Moil Bekas
ban berguna untuk belajar mengambang dan terapung ketika berada didalam air
Kecamata Renang
kecamata renang digunakan agar mata tidak terkena air ketika berenang
Pelampung Kaki Dan Sepatu Katak
C. Prasarana dalam Olahraga Renang
kolam Renang
Panjang kolam renang lintasan panjang adalah 50 m sementara lintasan pendek adalah 25 m. Dalam spesifikasi Federasi Renang Internasional untuk kolam ukuran Olimpiade ditetapkan panjang kolam 50 m dan lebar kolam 25 m. Kedalaman kolam minimum 1,35 meter, dimulai dari 1,0 m pertama lintasan hingga paling sedikit 6,0 m dihitung dari dinding kolam yang dilengkapi balok start. Kedalaman minimum di bagian lainnya adalah 1,0 m.
Tipologi Kolam Renang
Tipologi Kolam Renang
No
Uraian
Tipe A
Tipe B
Tipe C
1
Kolam utama
10 litasan
8 lintasan
8 lintasan
2
Kolam loncat indah
Standar
Standar
Standar
3
Kolam pemanasan
50 m 8 lintasan
25 m 8 lintasan
Menyesuaikan
4
Kolam latihan
Seperti tipe B
Seperti tipe C
Menyesuaikan
5
Fasilitas atlet dan ofisial
Standar nasional kolam renang
Standar nasional kolam renang
Standar nasional kolam renang
6
Fasilitas pengelolaan pertandingan
Standar nasional kolam renang
Standar nasional kolam renang
Menyesuaikan
7
Kapasitas penonton
2000-3000 orang
1000-2000 orang
Menyesuaikan
Lokasi
Pemilihan lokasi
Lokasi harus sesuai rencana tata ruang wilayah Kabupaten/kota atau berbasis pada rencana pembangunan kota yang berkelanjutan
Area disekitar lokasi bangunan bangunan kolam renang harus tersedia system infrastruktur kota yang memadai antara lain transportasi, listrik, air bersih, saluran kota dan telekomunikasi
wilayah lokasi bangunan kolam renang harus tersedia kolam renang fasilitas akomodasi (hotel) dan rumah sakit yang memadai dengan waktu tempuh maksimal 2 (dua) jam perjalanan
Luas lahan tersedia
Koefisien dasar bangunan (KDB) maksimum 30%, sehingga masih terdapat lahan yang tersedia untuk arena kegiatan olahraga di ruang terbuka (outdor), area evakuasi kondisi darurat, taman, penghijauan, pedestrian, jalan dan fasilitas parkir.
Topografi
Lahan yang tersedia harus merupakakan sebidang tanah yang rata sesuai dengan kebuthan untuk pembangunan kolam renang tipe tertentu yang direncanakan
Kondisi umum tanah tidak boleh memiliki kemiringan yang ekstrem, daya dukung tanah yang baik, tidak labil, dan tidak rawan longsor
kelestarian lingkungan
pembangunan kolam renang tidak boleh berdampak pada kerusakan atau penurunan kualitas lingkungan
lingkungan kolam renang harus dapat menjadi area penghijauan dan berfungsi sebagai paru-paru kota serta mampu memberikan konstribusi positif pada suku Kawasan atau kota
Lintasan
Lebar lintasan paling sedikit 2,5 m dengan jarak paling sedikit 0,2 m di luar lintasan pertamadanlintasanterakhir. Masing-masing lintasan dipisahkan dengan tali lintasan yang sama panjang dengan panjang lintasan. Tali lintasan terdiri dari rangkaian pelampung berukuran kecil pada seutas tali yang panjangnya sama dengan panjang lintasan. Pelampung pada tali lintasan dapat berputar-putar bila terkena gelombang air. Tali lintasan dibedakan menurut warna: hijau untuk lintasan 1 dan 8, biru untuk lintasan 2, 3, 6, dan 7, dan kuning untuk lintasan 4 dan 5. Perenang diletakkan di lintasan berdasarkan catatan waktu dalam babak penyisihan (heat). Di kolam berlintasan ganjil, perenang tercepat diunggulkan di lintasan paling tengah. Di kolam 8 lintasan, perenang tercepat ditempatkan di lintasan 4 (di lintasan 3 untuk kolam 6 lintasan).Perenang-perenang dengan catatan waktu di bawahnya secara berurutan menempati lintasan 5, 3, 6, 2, 7, 1, dan 8.
Balock Start
Di setiap balok start terdapat pengeras suara untuk menyuarakan tembakan pistol start dan sensor pengukur waktu yang memulai catatan waktu ketika perenang meloncat dari balok start. Tinggi balok start antara 0,5 m hingga 0,75 dari permukaan air. Ukuran balok start adalah 0,5 x 0,5 m, dan di atasnya dilapisi bahan antilicin. Kemiringan balok start tidak melebihi 10°.
persyaratan kualitas Air
a. Kualiatas kejernihan air
Air kolam harus chrystal clear dimana marka dasar kolam bisa terlihat jelas dari tepi kolam dan jarak pandang dalam air adalah 25 m horizontal dan 3 m vertical
Kejernihan air kolam harus berada pada skala kejernihan sebesar 0.2-0.5 NTU (Nephelometric Turbidity Unit)
Jumlah padatan terlarut harus lebih kecil dari 1500 ppm.
b. Kenyamanan dan kesehatan
Untuk memenuhi persyaratan kenyamanan dan kesehatan parameter yang harus dipenuhi adalah :
PH air antara 7 .2 – 7 .6;
Total alkalinitas 80 – 120 mg/L
Tingkat total kesadahan harus dikisaran 200-300 ppm;
Fasilitas pengelola kolam renang
Kantor pengelola
Gudang
Ruang mesin
Ruang pos keamanan
Ruang kantin
Tiket box
Operator sound system.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sarana dan Prasarana dalam olahraga renang itu berbeda. Biasanya kita langsung menyebutnya menjadi 1 buah kalimat yaitu sarana dan prasarana, sebenarnya itu adalah dua hal yang sangat berbeda,
Sarana adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan, di fungsikan untuk mempermudah proses pertandingan, dimana alat-alat tersebut mudah berpindah tangan.
Prasarana adalah Penunjang sarana untuk mempermudah kegiatan olahraga yang tidak di pindahkan.
Jenis-Jenis Sarana Dalam Olahraga Renang
Pakaian Renang
Papan Pelampung
Alat Bantu Bernapas
Bagian Dalam Ban Moil Bekas
Kecamata Renang
Pelampung Kaki Dan Sepatu Katak
Prasarana dalam Olahraga Renang
kolam Renang
Tipologi Kolam Renang
Lokasi
Lintasan
Balock Start
persyaratan kualitas Air
Fasilitas pengelola kolam renang.
B.Saran
Dalam penulisan makalah ini tidak dipungkiri bahwa kami tidak terdapat kesalahan, oleh karena itu apabila membaca dan memahami materi ini, diperlukan untuk memadankan dengan sumber lain, apabila terdapat kesalahan dalam penulisan kami, kritikan dan saran akan kami terima. Hal ini disebabkan terbatasnya kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki, namun demikian banyak pula pihak yang telah membantu kami dengan menyediakan sumber informasi, memberikan masukan pikiran dll.
DAFTAR PUSTAKA
HuseinUmar.(2002). RisetPemasarandanPerilakuKonsumen. Jakarta: GramediaPustakaUtama.
Agus S. Suryobroto. (2004). Diktat Mata KuliahSaranadanPrasaranaPendidikanJasmani:FakultasIlmuKeolahragaanUniversitasNegeri Yogyakarta.
Andriko Firma dan Elva Rahmah. (2012). Faktor-Faktor Yang MempengaruhiKepuasanPemustaka Di PerpustakaanKopertis Wilayah X. JurnalIlmuInformasiPerpustakaandanKearsipan (Vol. 1, No. 1). Hal 111.
YettySarjono. (2007). Faktor-faktorStrategikPelayananDosen Dan DampaknyaTerhadapKepuasanMahasiswa FKIP UniversitasMuhamadiyah Surakarta TahunAkademik 2005-2006. Varidika (Vol.1, Nomor 1 Junitahun 2007)
SARANA DAN PRASARANA ATLETIK. KELOMPOK 7
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah.
MAKASSAR, 5 APRIL 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
SAMPUL...........................................................................................................i
KATA PENGANTAR. ……………………………………………………. ii
DAFTAR ISI. …………………….…..…………………….……………… iii
BAB I
(PENDAHULUAN). ……………………………………………….….…… 1
LATAR BELAKANG. …………………………………….….…… 1
RUMUSAN MASALAH……………………………………………..2
TUJUAN…………………………………………………...…….…....2
BAB II
(PEMBAHASAN) ……………………………………………….…….…... 3
PENGERTIAN SARANA DAN PRASARAN OLAHRAGA..….... 3
FUNGSI SARANA DAN PRASARANA OLAHRAGA...................3
SARANA DAN PRASARANA OLAHRAGA ATLETIK................4
SARANA DAN PRASARANA LARI................................................5
BAB III
(PENUTUP). …………………………………………………..……....…..… 8
KESIMPULAN. ……………………………….. ….….....…...………8
SARAN. ………………………………………………….…......……..8
DAFTAR PUSTAKA. ………………………..........………………….....…..9
BIODATA PENULIS.....................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah. Keberhasilan program pendidikan disekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi saran dan prasarana pendidikan yang dimiliki sekolah dan oleh optimalisasi pengololaan dan dan pemanfaatannya.
Atletik merupakan kegiatan jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan yang dinamis dan harmonis, yaitu jalan, lari, lompat dan lempar. Atletik juga merupakan sarana untuk pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelenturan, kelincahan, koordinasi, dan sebagainya. Istilah atletik berasal dari bahasa Yunani yaitu Athlon atau Athlumyang berarti perlombaan atau pertandingan sedangkan orang yang melakukannya disebut Athleta(Atlet). Di Amerika dan di sebagian Eropa serta Asia sering memakai istilah / kata atletik dengan Track and Field, sedangkan negara Jerman memakai kata Leicht Athletikdan di negara Belanda memakai istilah Athletiek. Aktivitas jasmani dalam atletik menjadi unsur dasar untuk cabang olahraga yang lain sehingga atletik lazim disebut sebagai mother of sport atau ibu dari semua cabang olahraga. Di sekolah dewasa ini, atletik menjadi kegiatan yang wajib diajarkan kepada siswa. Atletik dikenal sebagai kegiatan yang murah, mudah dan masal. Keadaan kondisi apapun, sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani dengan pokok bahasan atletik.
Namun pembelajaran atletik di sekolah belum sesuai harapan. Banyak guru tidak menyadari, bahwa siswa mendapatkan kesenangan dari pembelajaran atletik dengan nomor berbeda.
Sekolah sebaiknya berupaya untuk meningkatakan prestasi atletik. Upaya tersebut diantaranya melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dan melaksanakan pembinaan dengan menggunakan berbagai bentuk metode yang cocok.
Rumusan Masalah
1. Apakah sarana prasarana olahraga itu?
2. Apa fungsi sarana dan prasarana olahraga?
3. Sarana dan prasarana apa saja yang diperlukan dalam olaharaga atletik di nomor lari?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sarana dan prasarana olahraga.
2. Untuk mengetahui fungsi sarana dan prasarana olahraga.
3. Untuk mengetahui sarana dan prasarana yang diperlukan dalam olaharaga atletik di nomor lari.
BAB II
(PEMBAHASAN)
SARANA DAN PRASARANA ATLETIK
Pengertian Sarana Prasarana Olahraga
Sarana prasarana olah raga adalah suatu bentuk permanen, baik itu ruangan di luar maupun di dalam. Contoh : cymnasium, lapangan permainan, kolam renang, dsb. (Wirjasanto 1984:154). Pengertian sarana prasarana tidak seperti yang di atas, namun ada beberapa pengertian lain menurut sumber yang berbeda pula. Sarana prasarana olah raga adalah semua sarana prasarana olah raga yang meliputi semua lapangan dan bangunan olahraga beserta perkengkapannya untuk melaksanakan program kegiatan olahraga (Seminar Prasarana OlahRaga Untuk Sekolah dan Hubungannya dengan Lingkungan (1978).
Sarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari segala bentuk dan jenis peralatan serta perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan olah raga. Prasarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk bangunan diatasnya dan batas fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk pelaksanaan program kegiatan olah raga.
Fungsi Sarana dan Prasarana Olahraga
Sebagai pendukung pelaksanaan suatu kegiatan terutama dalam pengajaran olahraga
Sebagai lokasi atau tempat dalam bisnis maupun aktivitas olahraga sehingga akan saling mendukung dengan adanya tempat dan juga perlengkapan beraktivitas.
Sebagai wadah atau penunjang untuk melakukan kegiatan olahraga sehingga harus dipersiapkan sesuai dengan peta olahraga di Indonesia.
Sarana dan Prasarana Olahraga Atletik
Dalam cabang olahraga atletik sarana dan prasarana berbeda-beda antara lari, lompat dan lempar.Kesemuanya dapat di kumpulkan dalam satu tempat yaitu stadion atletik. Stadion atletik terdiri dari beberapa bagian yaitu:
Lapangan utama untuk perlombaan
Lapangan untuk pemanasan
Prasarana yang harus ada yaitu :
1. Ruangan yang terdiri dari ruangan IT, pers, Medic, Tes doping, Ruang juri dan wasit, gudang,toilet.
2. Lintasan lari, lapangan lompat jauh & jangkit, lapangan lompat tinggi, lapangan lompat tinggi galah, lapangan lempar lembing, lapangan tolak peluru, lapangan lempar cakram, lapangan lontar martil dan lintasan lari steple chees.
Gambar 1 : Lapangan atletik
SARANA DAN PRASARANA LARI
Lintasan lari
Lintasan ini lebar keseluruhan tidak boleh kurang dari 9,76 meter dan lebar setia lintasan adalah 1,22 meter terbagi dalam 8 lintasan. Garis start dan garis finish
di tandai dengan garis putih selebar 5 cm yang tegak lurus pada garis lintasan di sisi dalam. Bila garis start tersebut berada di tikungan, harus dibuat garis start pada setiap lintasan sehingga setiap peserta lomba menempuh jarak yang sama. Lintasan lari bisa terbuat dari bermacam-macam bahan yaitu :
Lintasan yang terbuat dari grevel, tanah liat dan yang standar yaitu yang terbuat
dari karet atau sintetis
Gambar 2 : Lintasan Lari
Tiang finish
Tiang finish ini terbuat dari bahan yang kuat yang di cat putih yang di tancapkan 30 cm dari lintasan tepi. Tiang ini mempunyai ketinggian 1,4 meter, lebarnya 8 cm dan tebalnya 2 cm.
Balok start
Balok start harus terbuat dari bahan yang kokoh dan kuat, serta mudah di stel atau di pasang maupun di bongkar, tetapi tidak boleh ada perlengkapan atau alat yang membantu memberi percepatan atau pengaruh lari.
Gawang
Gawang di sini di peruntukkan untuk perlombaan lari yaitu 100 meter gawang
putri, 110 meter putra dan 400 meter gawang. Terdapat sepuluh buah gawang pada setiap jalur/lintasan. Ukuran dan jarak antar gawang di sajikan dengan tabel berikut :
Even gawang
Tinggi gawang
Jarak garis start ke gawang 1
Jarak antar gawang
Jarak gawang ke akhir garis finish
Putra
110 meter
1,067 m
13,72 m
9,14 m
14,02 m
400 meter
0,914 m
45 m
35 m
40 m
Putri
100 meter
0,838 m
13 m
8,50 m
10,50 m
400 meter
0,762 m
45 m
35 m
Kotak nomor lintasan
Starter’s high stand
Pistol start
Penghitung keliling untuk perlombaan lari yang lebih dari 1 putaran.
Bendera untuk juri lintasan
Stopwatch
Bangku timer
Keranjang pakaian
Alat angkut start block
Pengukur kecepatan angin
Foto finish
2. Perlengakapan untuk peserta atau atlet adalah sebagai berikut :
a. Pakaian
b. Nomor atlet
c. Sepatu spikes (sepatu berpaku)
BAB III
(PENUTUP)
KESIMPILAN
Prasarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk bangunan diatasnya dan batas fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk pelaksanaan program kegiatan olah raga.
Fungsi sarana dan prasarana olahraga yaitu sebagai tempat untuk menunjang dalam melakukan aktivitas olahraga, untuk mendukung kegiatan olahraga dan juga perlengkapan beraktivitas, sebagai motovasi peserta didik untuk berolahraga.
Prasarana yang harus ada yaitu :
Ruangan yang terdiri dari ruangan IT, pers, Medic, Tes doping, Ruang juri dan wasit, gudang,toilet.
Lintasan lari, lapangan lompat jauh & jangkit, lapangan lompat tinggi, lapangan lompat tinggi galah, lapangan lempar lembing, lapangan tolak peluru, lapangan lempar cakram, lapangan lontar martil dan lintasan lari steple chees.
SARAN
Peningkatan sarana dan prasarana di cabang olahraga atletik ini, sangat dibutuhkan bagi para atlet,karna hal tersebut sebagai pacuan bagi para atlet untuk lebih meningkatkan peforma latihan secara efektif dan efisien,sehingga pencapaian suatu prestasi bagi setiap atlet dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.kanalinfo.web.id/pengertian-sarana-dan-prasarana
https://tatangmanguny.wordpress.com/.../pengertian-sarana-dan-prasarana-pendidikan
www.pngdownload.id/png-gld9bl/
https://sports.sindonews.com/read/1239576/53/10-nomor-paling-populer-di-cabang-atletik-1505369518
Hanafi, Ifan. Dkk.. Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama untuk Pelatihan Kepala Sekola. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2001.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah.
MAKASSAR, 5 APRIL 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
SAMPUL...........................................................................................................i
KATA PENGANTAR. ……………………………………………………. ii
DAFTAR ISI. …………………….…..…………………….……………… iii
BAB I
(PENDAHULUAN). ……………………………………………….….…… 1
LATAR BELAKANG. …………………………………….….…… 1
RUMUSAN MASALAH……………………………………………..2
TUJUAN…………………………………………………...…….…....2
BAB II
(PEMBAHASAN) ……………………………………………….…….…... 3
PENGERTIAN SARANA DAN PRASARAN OLAHRAGA..….... 3
FUNGSI SARANA DAN PRASARANA OLAHRAGA...................3
SARANA DAN PRASARANA OLAHRAGA ATLETIK................4
SARANA DAN PRASARANA LARI................................................5
BAB III
(PENUTUP). …………………………………………………..……....…..… 8
KESIMPULAN. ……………………………….. ….….....…...………8
SARAN. ………………………………………………….…......……..8
DAFTAR PUSTAKA. ………………………..........………………….....…..9
BIODATA PENULIS.....................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah. Keberhasilan program pendidikan disekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi saran dan prasarana pendidikan yang dimiliki sekolah dan oleh optimalisasi pengololaan dan dan pemanfaatannya.
Atletik merupakan kegiatan jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan yang dinamis dan harmonis, yaitu jalan, lari, lompat dan lempar. Atletik juga merupakan sarana untuk pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelenturan, kelincahan, koordinasi, dan sebagainya. Istilah atletik berasal dari bahasa Yunani yaitu Athlon atau Athlumyang berarti perlombaan atau pertandingan sedangkan orang yang melakukannya disebut Athleta(Atlet). Di Amerika dan di sebagian Eropa serta Asia sering memakai istilah / kata atletik dengan Track and Field, sedangkan negara Jerman memakai kata Leicht Athletikdan di negara Belanda memakai istilah Athletiek. Aktivitas jasmani dalam atletik menjadi unsur dasar untuk cabang olahraga yang lain sehingga atletik lazim disebut sebagai mother of sport atau ibu dari semua cabang olahraga. Di sekolah dewasa ini, atletik menjadi kegiatan yang wajib diajarkan kepada siswa. Atletik dikenal sebagai kegiatan yang murah, mudah dan masal. Keadaan kondisi apapun, sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani dengan pokok bahasan atletik.
Namun pembelajaran atletik di sekolah belum sesuai harapan. Banyak guru tidak menyadari, bahwa siswa mendapatkan kesenangan dari pembelajaran atletik dengan nomor berbeda.
Sekolah sebaiknya berupaya untuk meningkatakan prestasi atletik. Upaya tersebut diantaranya melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dan melaksanakan pembinaan dengan menggunakan berbagai bentuk metode yang cocok.
Rumusan Masalah
1. Apakah sarana prasarana olahraga itu?
2. Apa fungsi sarana dan prasarana olahraga?
3. Sarana dan prasarana apa saja yang diperlukan dalam olaharaga atletik di nomor lari?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sarana dan prasarana olahraga.
2. Untuk mengetahui fungsi sarana dan prasarana olahraga.
3. Untuk mengetahui sarana dan prasarana yang diperlukan dalam olaharaga atletik di nomor lari.
BAB II
(PEMBAHASAN)
SARANA DAN PRASARANA ATLETIK
Pengertian Sarana Prasarana Olahraga
Sarana prasarana olah raga adalah suatu bentuk permanen, baik itu ruangan di luar maupun di dalam. Contoh : cymnasium, lapangan permainan, kolam renang, dsb. (Wirjasanto 1984:154). Pengertian sarana prasarana tidak seperti yang di atas, namun ada beberapa pengertian lain menurut sumber yang berbeda pula. Sarana prasarana olah raga adalah semua sarana prasarana olah raga yang meliputi semua lapangan dan bangunan olahraga beserta perkengkapannya untuk melaksanakan program kegiatan olahraga (Seminar Prasarana OlahRaga Untuk Sekolah dan Hubungannya dengan Lingkungan (1978).
Sarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari segala bentuk dan jenis peralatan serta perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan olah raga. Prasarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk bangunan diatasnya dan batas fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk pelaksanaan program kegiatan olah raga.
Fungsi Sarana dan Prasarana Olahraga
Sebagai pendukung pelaksanaan suatu kegiatan terutama dalam pengajaran olahraga
Sebagai lokasi atau tempat dalam bisnis maupun aktivitas olahraga sehingga akan saling mendukung dengan adanya tempat dan juga perlengkapan beraktivitas.
Sebagai wadah atau penunjang untuk melakukan kegiatan olahraga sehingga harus dipersiapkan sesuai dengan peta olahraga di Indonesia.
Sarana dan Prasarana Olahraga Atletik
Dalam cabang olahraga atletik sarana dan prasarana berbeda-beda antara lari, lompat dan lempar.Kesemuanya dapat di kumpulkan dalam satu tempat yaitu stadion atletik. Stadion atletik terdiri dari beberapa bagian yaitu:
Lapangan utama untuk perlombaan
Lapangan untuk pemanasan
Prasarana yang harus ada yaitu :
1. Ruangan yang terdiri dari ruangan IT, pers, Medic, Tes doping, Ruang juri dan wasit, gudang,toilet.
2. Lintasan lari, lapangan lompat jauh & jangkit, lapangan lompat tinggi, lapangan lompat tinggi galah, lapangan lempar lembing, lapangan tolak peluru, lapangan lempar cakram, lapangan lontar martil dan lintasan lari steple chees.
Gambar 1 : Lapangan atletik
SARANA DAN PRASARANA LARI
Lintasan lari
Lintasan ini lebar keseluruhan tidak boleh kurang dari 9,76 meter dan lebar setia lintasan adalah 1,22 meter terbagi dalam 8 lintasan. Garis start dan garis finish
di tandai dengan garis putih selebar 5 cm yang tegak lurus pada garis lintasan di sisi dalam. Bila garis start tersebut berada di tikungan, harus dibuat garis start pada setiap lintasan sehingga setiap peserta lomba menempuh jarak yang sama. Lintasan lari bisa terbuat dari bermacam-macam bahan yaitu :
Lintasan yang terbuat dari grevel, tanah liat dan yang standar yaitu yang terbuat
dari karet atau sintetis
Gambar 2 : Lintasan Lari
Tiang finish
Tiang finish ini terbuat dari bahan yang kuat yang di cat putih yang di tancapkan 30 cm dari lintasan tepi. Tiang ini mempunyai ketinggian 1,4 meter, lebarnya 8 cm dan tebalnya 2 cm.
Balok start
Balok start harus terbuat dari bahan yang kokoh dan kuat, serta mudah di stel atau di pasang maupun di bongkar, tetapi tidak boleh ada perlengkapan atau alat yang membantu memberi percepatan atau pengaruh lari.
Gawang
Gawang di sini di peruntukkan untuk perlombaan lari yaitu 100 meter gawang
putri, 110 meter putra dan 400 meter gawang. Terdapat sepuluh buah gawang pada setiap jalur/lintasan. Ukuran dan jarak antar gawang di sajikan dengan tabel berikut :
Even gawang
Tinggi gawang
Jarak garis start ke gawang 1
Jarak antar gawang
Jarak gawang ke akhir garis finish
Putra
110 meter
1,067 m
13,72 m
9,14 m
14,02 m
400 meter
0,914 m
45 m
35 m
40 m
Putri
100 meter
0,838 m
13 m
8,50 m
10,50 m
400 meter
0,762 m
45 m
35 m
Kotak nomor lintasan
Starter’s high stand
Pistol start
Penghitung keliling untuk perlombaan lari yang lebih dari 1 putaran.
Bendera untuk juri lintasan
Stopwatch
Bangku timer
Keranjang pakaian
Alat angkut start block
Pengukur kecepatan angin
Foto finish
2. Perlengakapan untuk peserta atau atlet adalah sebagai berikut :
a. Pakaian
b. Nomor atlet
c. Sepatu spikes (sepatu berpaku)
BAB III
(PENUTUP)
KESIMPILAN
Prasarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk bangunan diatasnya dan batas fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk pelaksanaan program kegiatan olah raga.
Fungsi sarana dan prasarana olahraga yaitu sebagai tempat untuk menunjang dalam melakukan aktivitas olahraga, untuk mendukung kegiatan olahraga dan juga perlengkapan beraktivitas, sebagai motovasi peserta didik untuk berolahraga.
Prasarana yang harus ada yaitu :
Ruangan yang terdiri dari ruangan IT, pers, Medic, Tes doping, Ruang juri dan wasit, gudang,toilet.
Lintasan lari, lapangan lompat jauh & jangkit, lapangan lompat tinggi, lapangan lompat tinggi galah, lapangan lempar lembing, lapangan tolak peluru, lapangan lempar cakram, lapangan lontar martil dan lintasan lari steple chees.
SARAN
Peningkatan sarana dan prasarana di cabang olahraga atletik ini, sangat dibutuhkan bagi para atlet,karna hal tersebut sebagai pacuan bagi para atlet untuk lebih meningkatkan peforma latihan secara efektif dan efisien,sehingga pencapaian suatu prestasi bagi setiap atlet dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.kanalinfo.web.id/pengertian-sarana-dan-prasarana
https://tatangmanguny.wordpress.com/.../pengertian-sarana-dan-prasarana-pendidikan
www.pngdownload.id/png-gld9bl/
https://sports.sindonews.com/read/1239576/53/10-nomor-paling-populer-di-cabang-atletik-1505369518
Hanafi, Ifan. Dkk.. Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama untuk Pelatihan Kepala Sekola. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2001.
PENATAAN DAN PENYIMPANAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN JASMANI. KELOMPOK 6
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Penataan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani”.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu
Makassar, 24 February 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Penulisan 2
Manfaat 3
BAB II PEMBAHASAN
Arti Ruang Lingkup Sarana dan Prasarana Penjas 4
Prinsip-Prinsip Dasar Pengelolaan Saran dan Prasarana Penjas 4
Penataan Sarana dan Prasarana Penjas 5
Penyimpanan Sarana dan Prasarana Penjas 7
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 12
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 14
BIODATA PENULIS 15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sarana dan Prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan secara optimal.
Sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sekolah menurut kebutuhan berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundang undangan pendidikan nasional yang berlaku.
Untuk mewujudkan dan mengatur hal tersebut pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Bagi pengambil kebijakan di sekolah pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana ia dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah arti dan ruang lingkup sarana dan prasarana penjas ?
Bagaimanakah prinsip-prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana penjas ?
Bagaimanakah penataan sarana dan prasarana penjas ?
Bagaimanakah penyimpanan sarana dan prasarana penjas ?
Tujuan
Pembaca dapat memahami arti dan ruang lingkup sarana dan prasarana penjas
Pembaca dapat memahami prinsip-prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana penjas
Pembaca dapat memahami penataan sarana dan prasarana penjas
Pembaca dapat memahami penyimpanan sarana dan prasarana penjas
Manfaat
Agar dapat menambah ilmu pembaca mengenai penataan dan penyimpanan sarana dan prasarana penjas.
Penataan sarana dan prasarana olaraga bermanfaat untuk semua komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan itu sendiri.
Menjadi pedoman administrator dalam melakukan penataan dan penyimpanan sarana dan prasarana sekolah.
Dapat mengoptimalkan pengelolaan dan pmanfaatan sarana dan prasarana pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
Arti Ruang Lingkup Sarana Dan Prasarana Penjas
Salah satu aspek yang seyogyanya mendapat perhatian utama dari setiap administrator pendidikan adalah mengenai sarana dan prasarana pendidikan. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang dalam proses pendidikan, seperti: gedung, ruang belajar atau kelas, alat-alat atau media pendidikan, meja, kursi dan sebagainya.
Sedangkan menurut rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembukuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, yang dimaksud dengan ”sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien”.
Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti : halaman, kebun atau taman sekolah, jalan menuju ke sekolah, tata tertib sekolah, dan sebagainya.
Prinsip-Prinsip Dasar Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Penjas
Sarana dan Prasarana pendidikan, khususnya lahan, bangunan dan perlengkapan sekolah seyogyanya menggambarkan program pendidikan atau kurikulum sekolah itu. Karena bangunan dan perlengkapan sekolah tersebut diadakan dengan berlandaskan pada kurikulum atau program pendidikan yang
berlaku, sehingga dengan adanya kesesuaian itu memungkinkan fasilitas yang ada benar-benar menunjang jalannya proses pendidikan.
Agar program pendidikan bisa tercapai dengan baik ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:
Prinsip pencapaian tujuan, yaitu bahwa sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi siap pakai bilamana akan di dayagunakan oleh personel sekolah dalam rangka pencapaian tujuan proses belajar mengajar.
Prinsip efisiensi, yaitu bahwa pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah hars dilakukan melalui perencanaan yang seksama, sehingga dapat diadakan sarana dan prasarana pendidikan yang baik dengan harga yang murah. Dan pemakaiannya pun harus dengan hati-hati sehingga mengurangi pemborosan.
Prinsip Administratif, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana ndidikan di sekola harus selalu memperhatikan undang-undang, peraturan, instruksi dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh yang berwenang.
Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus di delegasikan kepada personel sekolah yang mampu bertanggungjawab. Apabila melibatkan banyak personel sekolah dalam manajemennya maka perlu adanya deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap personel sekolah.
Prinsip Kekohesifan, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah itu harus direalisasikan dalam bentuk proses kerja yang sangat kompak.
Penataan Sarana dan Prasarana Penjas
Sebelum dilakukan penataan dan pengaturan kebutuhan, diperlukan perencanaan, pengadaan dan penyimpanan serta penempatan barang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penempatan diantaranya adalah:
Mudah dijangkau
Jauh dari keramaiaan (pasar, pabrik dll)
Jauh dari tempat berbahaya
Penataan sarana dan prasarana dapat dibagi menjadi :
Penataan barang bergerak
Yang dimaksud dengan barang bergerak adalah barang yang dapat dipindahkan dari penempatan sebelumnya. Misalnya perabot kantor seperti meja, kursi, bangku, lemari, komputer, dsb.
Penataan barang tidak bergerak
Yang dimaksud dengan barang tidak bergerak adalah barang yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti tanah, halaman, gedung, lapangan olahraga dll. Dalam penataan gedung umpamanya, maka sebelum ditata perlu diperhitungkan adanya beberapa aspek yaitu : Gedung sekolah yang didirikan hendaknya harus mendukung kegiatan belajar-mengajar yang meliputi :
Letak bangunan yang strategis dan mudah dijangkau
Linkungan yang aman dan kondusif
Jauh dari gangguan bencana alam
Dikehendaki oleh masyarakat
Jauh dari keramaian
Penataan barang bergerak habis pakai
Yang dimaksud dengan barang habis pakai adalah barang yang tidak tahan lama, cepat susut, dan habis setelah digunakan. Contoh : kertas, karbon, kapur, spidol, penghapus, buku dll. Sebaiknya memperhatikan ruang barang atau ketersediaan gudang yang layak untuk penyimpanan dan penataan barang tersebut agar tidak cepat rusak.
Penataan barang bergerak tidak habis pakai
Yaitu dengan cara mengatur barang yang ada dengan cara diberikan nomor dan kode pada barang tersebut sesuai dengan sandi-sandi yang berlaku. Hal ini dilakukan agar petugas dan pemakai lebih mudah memakai dan mengawasi pemakaiaanya. Seperti memberi nama pada setiap ruangan sesuai dengan fungsinya, dan nama peralatan dan perlengkapan sesuai dengan cabang olahraga.
Penyimpanan Sarana dan Prasarana Penjas
Hakikat Penyimpanan Sarana Pendidikan
Penyimpanan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menampung hasil pengadaan dan umumnya barang tersebut adalah milik Negara (baik pembelian, hibah, hadiah) pada wadah/tempat yang telah disediakan, penyimpanan sarana pendidikan adalah kegiatan simpan menyimpan suatu barang baik berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun alat eletronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh sesorang atau beberapa beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan dalam lembaga pendidikan. Aspek yang perlu dierhatikan dalam penyimpanan adalah aspek fisik dan aspek administratif. Aspek fisik dalam penyimpanan adalah wadah yang diperlukan untuk menampung barang milik Negara berasal dari pengadaan.aspek ini biasa disebut gudang.
Menurut Matin & Nurhattati Fuad ( 2016:119) penyimpanan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menampung hasi pengadaan bang milik Negara (baik hasil pembelian, hibah, hadiah) pada wadah/tempat yang telah disediakan. Penyimpanan sarana pendidikan adalah kgiatan simpan menyimpan suatu barang baik berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun barang elektronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh seorang atau beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan pada lembaga pendidikan.
Tempat Penyimpanan Sarana Pendidikan
Aspek fisik dalam penyimpanan adalah wadah yang diperlukan untuk menampung barang milik Negara berasal dari pengadaan. Aspek ini biasa disebut gudang, Sebagai tempat penyimpanan gudang dapat dibedakan menjadi beberapa hal yaitu:
Gudang pusat, yaitu gudang yang diperlukan untuk menampung barang hasil pengadaan, yang terletak pada unit. Biasanya gudang pusat juga digunakan untuk menyimpan stok atau persediaan.
Gudang penyalur, yaitu gudang yang digunakan untuk menyimpan barang sementara sebelum disalurkan keunit atau satuan kerja yang membutuhkan.
Gudang transit, yaitu gudang yang digunakan untuk menyimpan barang sementara sebelu disalurkan keunit satuan kerja yang membutuhkan.
Gudang khusus, yaitu gudang yang digunakan untukmenyimpan barang-barang yang memounyai spesifikasi khusus seperti barang yang mudah pecah, meledak atua terbakar.
Gudang pemakai yaitu gudang yang dipelukan untuk menyimpan barang-barang yang akan dan telah digunakan dalam pelaksanaan kegiatan.
Gudang terrbuka adalah gudang yang tidak berdinding dan tidak beratap, tetapi berlantai dan harus dikeraskan ssuai dngan berat barang-barang yang akan disimpan.
Gudang tetutup adlah gudang berdinding dan beatap yang konstruksinya disesuaikan dengan fungsi gudang itu.
Prosedur dan Tata Cara Penyimpanan Barang
Penerimaan, hal-hal yang dilakukan dalam penerimaan barang antara lain :
Menerima pemberitahuan pengiriman dari pihak yang menerima barang.
Mempersiapkan segalah sesuatu yang diperlukan dalam peneruimaan dan pemeriksaan barang.
Memeriksa barang yang diterima baik fisik seperti jumlah, kualitas, tipe maupun kelengkapan administrasi seperti surat kepemilikan.
Membuat berita acara penerimaan dan hasil pemeriksaan barang.
Penyimpanan sarana dapat dikatakan suatu kegiatan simpan menyimpan suatu barang berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun barang eletronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan pada suatau sekolah.
Kegiatan penyimpanan meliputi menerima, menyimpan dan mengeluarkan barang digudang. Menurut bentuknya gudang dibedakan menjadi dua yaitu gudang terbuka dan gudang tertutup.
Dalam mengatur penyimpanan barang hendaknya diperhatikan sifat-sifat barang sehingga nilai guna barang tidak susut sebelum barang itu dipakai.
Prinsip-Prinsip Penyimpanan Sarana dan prasarana
Berbicara tentang penyimpanan barang, erat kaitanya dengan pemeliharaan barang, karna salah satu tujuan penyimpanan barang adalah memelihara agar barang-barang tersebut tidak cepat rusak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan barang dengan menggunakan prinsip 5W+1H yaitu:
Apa saja barang yang disimpan? (what)
Kertas: barang yang termasuk dari kertas contohnya buku tulis, buku besar, kertas tik atau kertas printer, kertas folio dan lain-lain.
Kayu: sepeti kursi, meja, papan tulis, lemari, buper dan lain-lain.
Plastic: alat-alat kebersihan seperti bak sampah dan serokan sampah, sapu, kemoceng, rak sepatu dan lain-lain.
Besi: sepeti mesin tik dan computer.
Lain-lain, dapat dikategoikan barang-barang yang termasuk kedalam alt tulis kantor diantarranya alat tulis seperti pensil, pulpen, spidol, penghapus, penggaris, dan jenis alat peraga seperti globe dan tool kit IPA dan alat peraga matematika.
Mengapa barang-barang perlu disimpan? (why)
Memeliharar agar barang-barang yang disimpan tidak cepat rusak.
Dapat digunakan dengan cepat jika diperlukan.
Menjaga kebersihan baran gdari dbu dan kotoran.
Menjaga keamanan bang dai kehilangan.
Dimana barang-barang perlu disimpan? (where)
Gudang terbuka,
Gudang tertutup,
Dalam kelas,
Ruang kepala sekolah,
Ruang guru; dan
Ruang lainnya.
Kapan waktunya barang-barang disimpan ? (when)
Barang-barang yang sudah dianggakan dalam pengadaan barang jika sudah terealisir langsung disimpan di bagian penyimpanan barang, slanjutnya diterima dan diinventarrisir dan dicatat.
Untuk barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi/rusak, apabila sudah tidak diperbaiki lagi, langsung dimasukkan dalam gudang penyimpanan, dan apabila biaya perbaikan melebihi anggaan pembelian, maka barang tersebut dimasukkan dalam buku penghapusan.
Siapa yang bertugas menyimpan barang ? (who)
Untuk sekolah-sekolah besar yang biasanya ada seorang yang ditunjuk sebagai petugas penyimpanan barang di gudang,
Untuk sekolah sedang dan kecil, dilakukan oleh penjaga sekolah.
Bagaimana cara menyimpan barang yang baik dan benar ? (how)
Barang-barang yang sudah ada: diteima, dicatat, digudangkan, diatir, dirawat dqan dijaga scara tertib, rapid an aman.
Dibuatkan daftar nama tempat barang penyimpanan agar mudah ditemukan.
Barang-barang yang mudah rusak dimasukkan dalam sebuah pelindung (lemari).
Barang-barang kecil seperti bang-barang ATK disimpan dalam sebuah wadah yag mudah dijangkau dan ditemukan.
Barang-barang yang bsar tidak perlu dimasukkan ke dalam lmari, tetapi tempatnya cukup aman dan nyaman.
Barang-barang elktronik seperti msin tik dan computer sebaiknya disimpan di ruangan yang lebih aman seperti besi teralis.
Barang-barang yang terbuat dari kertas uasahakan jauh dai tempat basah, lembab dan air.
Barang-barang yang disimpan dalam lemari sebaiknya sering dibuka untuk menghindarkan terjadinya proses penjamuran apabila ruangan lembab.
Semua alat-alat dan plengkapan harus disimpan ditempat yang bebas dari faktor-faktor perusak seperti: panas, lembab dan lapuk.
Seemua penyimpanan haus diadministrasikan menurut ketentuan bahwa persediaan lama harus lebih dulu diperguankan.
Harus ada inventarisasi secara berkala.
Barang-barang ttentu (alat elektronik) haus slalu dikontrol dan diservis secara berkala.
Laporan tntang keadaan penyimpanan dibuat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sarana prasarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien.
Prinsip pengelolaan sarana dan prasarana penjas : 1) prinsip pencapaian tujuan; 2) pinsip efsiensi; 3) pinsip administatif; 4) prinisip kejelasan tanggung jawab; dan 5) prinsip kekohesifan.
Penataan sarana dan prasarana dibagi menjadi 4 yaitu : penataan barang bergerak, penataan barang tidak begeak, penataan barang bergerak habis pakai dan penataan barang bergerak tidak habis pakai.
Penyimpanan sarana dan prasarana menggunakan prinsip 5W+1H.
Saran
Hendaknya administrator yang ada disekolah-sekolah harus mampu memanajemen sarana dan prasarana dengan baik agar aktivitas belajar mengajar disekolah berjalan dengan lancar.
Makalah ini merupakan resume dari berbagai sumber, untuk lebih mendalami isi makalah dapat dibaca dalam website rujukan yang tercantum dalam daftar pustaka. Selanjutnya, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada pembaca apabila terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun kekeliruan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, saran dan kritikan
dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai sistem penataan dan penyimpanan sarana & prasarana penjas.
DAFTAR PUSTAKA
https://academia.edu/pengelolaan-sarana-dan-prasarana.html. diakses jumat 22 Februari 2019
https://amiamaliahanii.wodpress.com.pengelolaan-sarana-dan-prasarana- pendidikan.html. Diakses jumat 22 Februay 2019
https://fajrulikhsan.bogspot.com.penataan-dan-penyimpanan. Html. Diakses jumat 22 Febuari 2019
https://saiful0909.blogspot.com/2018/05/ penataan-dan–penyimpanan–sarana- dan-prasarana.html. diakses jumat 22 Februari 2019.
Matin., Fuad, Nurhattati. 2016. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan konsep dan aplikasinya. Jakarta ; PT. Raja Grafindo Persada.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Penataan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani”.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu
Makassar, 24 February 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Penulisan 2
Manfaat 3
BAB II PEMBAHASAN
Arti Ruang Lingkup Sarana dan Prasarana Penjas 4
Prinsip-Prinsip Dasar Pengelolaan Saran dan Prasarana Penjas 4
Penataan Sarana dan Prasarana Penjas 5
Penyimpanan Sarana dan Prasarana Penjas 7
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 12
Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 14
BIODATA PENULIS 15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sarana dan Prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan secara optimal.
Sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sekolah menurut kebutuhan berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundang undangan pendidikan nasional yang berlaku.
Untuk mewujudkan dan mengatur hal tersebut pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Bagi pengambil kebijakan di sekolah pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana ia dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.
Rumusan Masalah
Bagaimanakah arti dan ruang lingkup sarana dan prasarana penjas ?
Bagaimanakah prinsip-prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana penjas ?
Bagaimanakah penataan sarana dan prasarana penjas ?
Bagaimanakah penyimpanan sarana dan prasarana penjas ?
Tujuan
Pembaca dapat memahami arti dan ruang lingkup sarana dan prasarana penjas
Pembaca dapat memahami prinsip-prinsip dasar pengelolaan sarana dan prasarana penjas
Pembaca dapat memahami penataan sarana dan prasarana penjas
Pembaca dapat memahami penyimpanan sarana dan prasarana penjas
Manfaat
Agar dapat menambah ilmu pembaca mengenai penataan dan penyimpanan sarana dan prasarana penjas.
Penataan sarana dan prasarana olaraga bermanfaat untuk semua komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan itu sendiri.
Menjadi pedoman administrator dalam melakukan penataan dan penyimpanan sarana dan prasarana sekolah.
Dapat mengoptimalkan pengelolaan dan pmanfaatan sarana dan prasarana pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
Arti Ruang Lingkup Sarana Dan Prasarana Penjas
Salah satu aspek yang seyogyanya mendapat perhatian utama dari setiap administrator pendidikan adalah mengenai sarana dan prasarana pendidikan. Sarana pendidikan umumnya mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang dalam proses pendidikan, seperti: gedung, ruang belajar atau kelas, alat-alat atau media pendidikan, meja, kursi dan sebagainya.
Sedangkan menurut rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembukuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, yang dimaksud dengan ”sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien”.
Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti : halaman, kebun atau taman sekolah, jalan menuju ke sekolah, tata tertib sekolah, dan sebagainya.
Prinsip-Prinsip Dasar Pengelolaan Sarana Dan Prasarana Penjas
Sarana dan Prasarana pendidikan, khususnya lahan, bangunan dan perlengkapan sekolah seyogyanya menggambarkan program pendidikan atau kurikulum sekolah itu. Karena bangunan dan perlengkapan sekolah tersebut diadakan dengan berlandaskan pada kurikulum atau program pendidikan yang
berlaku, sehingga dengan adanya kesesuaian itu memungkinkan fasilitas yang ada benar-benar menunjang jalannya proses pendidikan.
Agar program pendidikan bisa tercapai dengan baik ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:
Prinsip pencapaian tujuan, yaitu bahwa sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi siap pakai bilamana akan di dayagunakan oleh personel sekolah dalam rangka pencapaian tujuan proses belajar mengajar.
Prinsip efisiensi, yaitu bahwa pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah hars dilakukan melalui perencanaan yang seksama, sehingga dapat diadakan sarana dan prasarana pendidikan yang baik dengan harga yang murah. Dan pemakaiannya pun harus dengan hati-hati sehingga mengurangi pemborosan.
Prinsip Administratif, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana ndidikan di sekola harus selalu memperhatikan undang-undang, peraturan, instruksi dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh yang berwenang.
Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus di delegasikan kepada personel sekolah yang mampu bertanggungjawab. Apabila melibatkan banyak personel sekolah dalam manajemennya maka perlu adanya deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap personel sekolah.
Prinsip Kekohesifan, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah itu harus direalisasikan dalam bentuk proses kerja yang sangat kompak.
Penataan Sarana dan Prasarana Penjas
Sebelum dilakukan penataan dan pengaturan kebutuhan, diperlukan perencanaan, pengadaan dan penyimpanan serta penempatan barang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penempatan diantaranya adalah:
Mudah dijangkau
Jauh dari keramaiaan (pasar, pabrik dll)
Jauh dari tempat berbahaya
Penataan sarana dan prasarana dapat dibagi menjadi :
Penataan barang bergerak
Yang dimaksud dengan barang bergerak adalah barang yang dapat dipindahkan dari penempatan sebelumnya. Misalnya perabot kantor seperti meja, kursi, bangku, lemari, komputer, dsb.
Penataan barang tidak bergerak
Yang dimaksud dengan barang tidak bergerak adalah barang yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti tanah, halaman, gedung, lapangan olahraga dll. Dalam penataan gedung umpamanya, maka sebelum ditata perlu diperhitungkan adanya beberapa aspek yaitu : Gedung sekolah yang didirikan hendaknya harus mendukung kegiatan belajar-mengajar yang meliputi :
Letak bangunan yang strategis dan mudah dijangkau
Linkungan yang aman dan kondusif
Jauh dari gangguan bencana alam
Dikehendaki oleh masyarakat
Jauh dari keramaian
Penataan barang bergerak habis pakai
Yang dimaksud dengan barang habis pakai adalah barang yang tidak tahan lama, cepat susut, dan habis setelah digunakan. Contoh : kertas, karbon, kapur, spidol, penghapus, buku dll. Sebaiknya memperhatikan ruang barang atau ketersediaan gudang yang layak untuk penyimpanan dan penataan barang tersebut agar tidak cepat rusak.
Penataan barang bergerak tidak habis pakai
Yaitu dengan cara mengatur barang yang ada dengan cara diberikan nomor dan kode pada barang tersebut sesuai dengan sandi-sandi yang berlaku. Hal ini dilakukan agar petugas dan pemakai lebih mudah memakai dan mengawasi pemakaiaanya. Seperti memberi nama pada setiap ruangan sesuai dengan fungsinya, dan nama peralatan dan perlengkapan sesuai dengan cabang olahraga.
Penyimpanan Sarana dan Prasarana Penjas
Hakikat Penyimpanan Sarana Pendidikan
Penyimpanan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menampung hasil pengadaan dan umumnya barang tersebut adalah milik Negara (baik pembelian, hibah, hadiah) pada wadah/tempat yang telah disediakan, penyimpanan sarana pendidikan adalah kegiatan simpan menyimpan suatu barang baik berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun alat eletronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh sesorang atau beberapa beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan dalam lembaga pendidikan. Aspek yang perlu dierhatikan dalam penyimpanan adalah aspek fisik dan aspek administratif. Aspek fisik dalam penyimpanan adalah wadah yang diperlukan untuk menampung barang milik Negara berasal dari pengadaan.aspek ini biasa disebut gudang.
Menurut Matin & Nurhattati Fuad ( 2016:119) penyimpanan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menampung hasi pengadaan bang milik Negara (baik hasil pembelian, hibah, hadiah) pada wadah/tempat yang telah disediakan. Penyimpanan sarana pendidikan adalah kgiatan simpan menyimpan suatu barang baik berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun barang elektronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh seorang atau beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan pada lembaga pendidikan.
Tempat Penyimpanan Sarana Pendidikan
Aspek fisik dalam penyimpanan adalah wadah yang diperlukan untuk menampung barang milik Negara berasal dari pengadaan. Aspek ini biasa disebut gudang, Sebagai tempat penyimpanan gudang dapat dibedakan menjadi beberapa hal yaitu:
Gudang pusat, yaitu gudang yang diperlukan untuk menampung barang hasil pengadaan, yang terletak pada unit. Biasanya gudang pusat juga digunakan untuk menyimpan stok atau persediaan.
Gudang penyalur, yaitu gudang yang digunakan untuk menyimpan barang sementara sebelum disalurkan keunit atau satuan kerja yang membutuhkan.
Gudang transit, yaitu gudang yang digunakan untuk menyimpan barang sementara sebelu disalurkan keunit satuan kerja yang membutuhkan.
Gudang khusus, yaitu gudang yang digunakan untukmenyimpan barang-barang yang memounyai spesifikasi khusus seperti barang yang mudah pecah, meledak atua terbakar.
Gudang pemakai yaitu gudang yang dipelukan untuk menyimpan barang-barang yang akan dan telah digunakan dalam pelaksanaan kegiatan.
Gudang terrbuka adalah gudang yang tidak berdinding dan tidak beratap, tetapi berlantai dan harus dikeraskan ssuai dngan berat barang-barang yang akan disimpan.
Gudang tetutup adlah gudang berdinding dan beatap yang konstruksinya disesuaikan dengan fungsi gudang itu.
Prosedur dan Tata Cara Penyimpanan Barang
Penerimaan, hal-hal yang dilakukan dalam penerimaan barang antara lain :
Menerima pemberitahuan pengiriman dari pihak yang menerima barang.
Mempersiapkan segalah sesuatu yang diperlukan dalam peneruimaan dan pemeriksaan barang.
Memeriksa barang yang diterima baik fisik seperti jumlah, kualitas, tipe maupun kelengkapan administrasi seperti surat kepemilikan.
Membuat berita acara penerimaan dan hasil pemeriksaan barang.
Penyimpanan sarana dapat dikatakan suatu kegiatan simpan menyimpan suatu barang berupa perabot, alat tulis kantor, surat-surat maupun barang eletronik dalam keadaan baru, maupun rusak yang dapat dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang yang ditunjuk atau ditugaskan pada suatau sekolah.
Kegiatan penyimpanan meliputi menerima, menyimpan dan mengeluarkan barang digudang. Menurut bentuknya gudang dibedakan menjadi dua yaitu gudang terbuka dan gudang tertutup.
Dalam mengatur penyimpanan barang hendaknya diperhatikan sifat-sifat barang sehingga nilai guna barang tidak susut sebelum barang itu dipakai.
Prinsip-Prinsip Penyimpanan Sarana dan prasarana
Berbicara tentang penyimpanan barang, erat kaitanya dengan pemeliharaan barang, karna salah satu tujuan penyimpanan barang adalah memelihara agar barang-barang tersebut tidak cepat rusak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan barang dengan menggunakan prinsip 5W+1H yaitu:
Apa saja barang yang disimpan? (what)
Kertas: barang yang termasuk dari kertas contohnya buku tulis, buku besar, kertas tik atau kertas printer, kertas folio dan lain-lain.
Kayu: sepeti kursi, meja, papan tulis, lemari, buper dan lain-lain.
Plastic: alat-alat kebersihan seperti bak sampah dan serokan sampah, sapu, kemoceng, rak sepatu dan lain-lain.
Besi: sepeti mesin tik dan computer.
Lain-lain, dapat dikategoikan barang-barang yang termasuk kedalam alt tulis kantor diantarranya alat tulis seperti pensil, pulpen, spidol, penghapus, penggaris, dan jenis alat peraga seperti globe dan tool kit IPA dan alat peraga matematika.
Mengapa barang-barang perlu disimpan? (why)
Memeliharar agar barang-barang yang disimpan tidak cepat rusak.
Dapat digunakan dengan cepat jika diperlukan.
Menjaga kebersihan baran gdari dbu dan kotoran.
Menjaga keamanan bang dai kehilangan.
Dimana barang-barang perlu disimpan? (where)
Gudang terbuka,
Gudang tertutup,
Dalam kelas,
Ruang kepala sekolah,
Ruang guru; dan
Ruang lainnya.
Kapan waktunya barang-barang disimpan ? (when)
Barang-barang yang sudah dianggakan dalam pengadaan barang jika sudah terealisir langsung disimpan di bagian penyimpanan barang, slanjutnya diterima dan diinventarrisir dan dicatat.
Untuk barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi/rusak, apabila sudah tidak diperbaiki lagi, langsung dimasukkan dalam gudang penyimpanan, dan apabila biaya perbaikan melebihi anggaan pembelian, maka barang tersebut dimasukkan dalam buku penghapusan.
Siapa yang bertugas menyimpan barang ? (who)
Untuk sekolah-sekolah besar yang biasanya ada seorang yang ditunjuk sebagai petugas penyimpanan barang di gudang,
Untuk sekolah sedang dan kecil, dilakukan oleh penjaga sekolah.
Bagaimana cara menyimpan barang yang baik dan benar ? (how)
Barang-barang yang sudah ada: diteima, dicatat, digudangkan, diatir, dirawat dqan dijaga scara tertib, rapid an aman.
Dibuatkan daftar nama tempat barang penyimpanan agar mudah ditemukan.
Barang-barang yang mudah rusak dimasukkan dalam sebuah pelindung (lemari).
Barang-barang kecil seperti bang-barang ATK disimpan dalam sebuah wadah yag mudah dijangkau dan ditemukan.
Barang-barang yang bsar tidak perlu dimasukkan ke dalam lmari, tetapi tempatnya cukup aman dan nyaman.
Barang-barang elktronik seperti msin tik dan computer sebaiknya disimpan di ruangan yang lebih aman seperti besi teralis.
Barang-barang yang terbuat dari kertas uasahakan jauh dai tempat basah, lembab dan air.
Barang-barang yang disimpan dalam lemari sebaiknya sering dibuka untuk menghindarkan terjadinya proses penjamuran apabila ruangan lembab.
Semua alat-alat dan plengkapan harus disimpan ditempat yang bebas dari faktor-faktor perusak seperti: panas, lembab dan lapuk.
Seemua penyimpanan haus diadministrasikan menurut ketentuan bahwa persediaan lama harus lebih dulu diperguankan.
Harus ada inventarisasi secara berkala.
Barang-barang ttentu (alat elektronik) haus slalu dikontrol dan diservis secara berkala.
Laporan tntang keadaan penyimpanan dibuat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sarana prasarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien.
Prinsip pengelolaan sarana dan prasarana penjas : 1) prinsip pencapaian tujuan; 2) pinsip efsiensi; 3) pinsip administatif; 4) prinisip kejelasan tanggung jawab; dan 5) prinsip kekohesifan.
Penataan sarana dan prasarana dibagi menjadi 4 yaitu : penataan barang bergerak, penataan barang tidak begeak, penataan barang bergerak habis pakai dan penataan barang bergerak tidak habis pakai.
Penyimpanan sarana dan prasarana menggunakan prinsip 5W+1H.
Saran
Hendaknya administrator yang ada disekolah-sekolah harus mampu memanajemen sarana dan prasarana dengan baik agar aktivitas belajar mengajar disekolah berjalan dengan lancar.
Makalah ini merupakan resume dari berbagai sumber, untuk lebih mendalami isi makalah dapat dibaca dalam website rujukan yang tercantum dalam daftar pustaka. Selanjutnya, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada pembaca apabila terdapat kesalahan dalam penulisan ataupun kekeliruan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, saran dan kritikan
dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai sistem penataan dan penyimpanan sarana & prasarana penjas.
DAFTAR PUSTAKA
https://academia.edu/pengelolaan-sarana-dan-prasarana.html. diakses jumat 22 Februari 2019
https://amiamaliahanii.wodpress.com.pengelolaan-sarana-dan-prasarana- pendidikan.html. Diakses jumat 22 Februay 2019
https://fajrulikhsan.bogspot.com.penataan-dan-penyimpanan. Html. Diakses jumat 22 Febuari 2019
https://saiful0909.blogspot.com/2018/05/ penataan-dan–penyimpanan–sarana- dan-prasarana.html. diakses jumat 22 Februari 2019.
Matin., Fuad, Nurhattati. 2016. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan konsep dan aplikasinya. Jakarta ; PT. Raja Grafindo Persada.
PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN JASMANI. KELOMPOK 5
KATA PENGANTAR
AssalamuAlaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan menyebut Nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami kelompok 5, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani”.Makalah ini telah kami susun dengan baik. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari Bapak/Ibu Pembimbing mata kuliah agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat diterima oleh Bapak/Ibu Pembimbing mata kuliah. Sekian dan terima kasih
WassalamuAlaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Makassar, 05 Mei 2019
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sarana dan Prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan secara optimal.
Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan istilah KTSP dimana penerapan desentralisasi pengambilan keputusan, memberikan hak otonomi penuh terhadap setiap tingkat satuan pendidikan, untuk mengoptimalkan penyedian, pendayagunaan, perawatan dan pengendalian sarana dan prasarana pendidikan. Sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sekolah menurut kebutuhan berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundang undangan pendidikan nasional yang berlaku.
Untuk mewujudkan dan mengatur hal tersebut pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Bagi pengambil kebijakan di sekolah pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana ia dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
2. Apakah tujuan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
3. Apa saja macam-macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
4. Apakah manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
5. Apa saja prinsip-prinsip pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
6. Bagaimanakah tahap pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
C. Tujuan
1. Pembaca dapat mengetahui pengertian pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
2. Pembaca dapat mengetahui tujuan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
3. Pembaca dapat mengetahui macam-macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
4. Pembaca dapat mengetahui manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
5. Pembaca dapat mengetahui prinsip-prinsip pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
6. Pembaca dapat mengetahui tahap pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
D. Manfaat
Manfaat yang bisa kita dapat dalam penulisan makalah tentang materi ini adalah selain untuk melatih penulis dalam pembuatan makalah, diharapkan juga agar materi ini dapat dipahami oleh penulis dan pembaca. Dalam materi ini masalah yang dihadapi adalah bagaimana cara kita untuk dapat memelihara sarana dan prasarana yang ada di sekolah-sekolah atau di tempat lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:268-269) pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan selalu siap digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. Pemeliharaan mencakup segala daya upaya yang terus-menerus mengusahakan agar peralatan tersebut tetap dalam keadaan baik. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Gambar 2.1 Sarana dan Prasarana di Sekolah
B. Tujuan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Gunawan dalam Minarti (2011:269) tujuan dalam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan. Hal ini sangat penting, terutama jika dilihat dari aspek biaya karena untuk membeli suatu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari peralatan tersebut.
2. Untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hati yang optimal.
3. Untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pengecekan secara rutin dan teratur.
4. Untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut.
C. Macam-Macam Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:270) dalam pemeliharaan, ada empat macam apabila ditinjau dari sifatnya, yaitu (1) pemeliharaan yang bersifat pengeekan; (2)
bersifat pengecekan; (3) bersifat pengecekan ringan; (4) bersifat perbaikan berat. Apabila ditinjau dari waktu pemeliharaannya, ada dua macam, yaitu (1) pemeliharaan sehari-hari (menyapu, mengepel lantai, dan sebgainya), (2) pemeliharaan berkala (pengontrolan genting, pengapuran tembok, dan sebainya). Kegiatan pemeliharaan dilakukan agar setiap sarana dan prasarana pendidikan selalu siap pakai dalam proses/kegiatan belajar mengajar.
Sedangkan menurut Bafadal (2014: 48) ada beberapa macam pemelihraan perlengkapan pendidikan di sekolah. Ditinjau dari sifatnya, ada empat macam pemeliharaan perlengkapan pendidikan. Kempat pemeliharaan tersebut cocok dilakukan pada perlengkapan pendidikan berupa mesin. Pertama, pemeliharaan yang bersifat pengecekan. Pengecekan ini dilakukan oleh seseorang yang mengetahui tentang baik buruknya keadaan mesin. Kedua, pemeliharaan yang bersifat pencegahan. Pemeliharaan dengan cara demikian itu dilakukan agar kondisi mesin selalu dalam keadaan baik. Misalnya sekolah memiliki sepeda motor dinas hendakya setiap hari dilakukan pemeriksaan terhadap minyak rem dan bensinnya. Ketiga, pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan, seperti perbaikan remnya. Keempat, perbaikan berat.
Ditinjau dari waktu perbaikannya, ada dua macam pemeliharaan perlengkapan sekoalah, yaitu pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan sehari-hari, misalnya, berupa menyapu, mengepel lantai, dan membersihkan pintu. Sedangkan pemeliharaan berkala, misalnya berupa pengontrolan genting dan pengaporan tembok.
D. Manfaat Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:270) manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan sangat menunjang bagi keberlangsungan efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Manfaat lain antara lain adalah sebagai berikut:
1. Jika peralatan terpelihara baik, umurnya akan awet yang berarti tidak perlu mengadukan penggantian dalam waktu yang singkat.
2. Pemeliharaan yang baik mengakibatkan jarang terjadi kerusakan yang berarti biaya perbaikan dapat diterakan seminim mungkin.
3. Dengan adanya pemeliharaan yang baik, akan lebih terkontrol sehingga menghindari kehilangan.
4. Dengan adanya pemeliharaan yang baik, enak dilihat dan dipandang.
5. Pemeliharaan yang baik memberikan hasil pekerjaan yang baik.
E. Prinsip-Prinsip Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:271-272) tugas pengelola perlengkapan setelah mendapatkan barang selain memelihara adalah menata perlengkapan sarana dan prasarana pendidikan yang rapi dan tertib, serta penempatannya tidak mengganggu pada personal yang lain. Salah satunya dalam menata kantor lembaga. Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menata ruangan, antara lain sebagai berikut:
1. Suatu tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memungkinkan semua personal tata usaha dapat menempuh jarak yang sependek-pendeknya dalam setiap menyelesaikan pekerjaan ketatausahaannya.
2. Bagian-bagian kantor lembaga yang memiliki tugas atau fungsi yang sama dan saling berkaitan hendaknya diletakkan secara berdekatan.
3. Tata ruang yang ideal pada dasarnya adalah tata ruang yang menempatan para personel dan alat-alatnya berdasarkan alur proses kerjaannya.
4. Kantor yang baik adalah kantor yang punya ventilasi. Oleh karena itu, meja dan perabot lainnya harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap bagian kantor mendapatkan cahaya dan pertukaran udara yang cukup.
5. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memanfaatkan ruangan semaksimal mungkin. Oleh karena itu, suatu tata ruang yang baik adalah tata ruang yang menggunakan seluruh ruang yang ada, baik ruang lantai maupun dindingnya.
6. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang dapat dengan mudah disusun kembali bila diperlukan.
7. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memisahkan pekerjaan yang berbunyi keras dan mengganggu pekerjaan lainnya.
Penggunaan perlengkapan lembaga sekolah pun, harus memerhatikan prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi. Prinsip efektivitas berarti semua penggunaan harus ditujukan semata-mata untuk memperlancar pencapaian tujuan pendidikan. Sedangkan, prinsip efisiensi berarti penggunaan semua perlengkapan secara hemat dan dengan hati-hati. Hal ini juga berarti bahwa perlengkapan yang digunakan harus sesuai dengan fungsinya sehingga dapat mengurangi kerusakan pada barang tersebut. Misalnya, penggunaan komputer yang digunakan untuk keperluan kantor, bukan untuk yang lainnya.
Gambar 2.2 Menata ruangan sesuai dengan fungsinya
F. Tahap Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Barnawi dan Arifin (2012: 228) tahapan dalam memelihara sarana dan prasarana sekolah dapat dirumuskan menjadi 5P, yaitu Penyadaran, Pemahaman, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pendataan. P- pertama ialah penyadaran, yaitu upaya menanamkan kesadaran kepada warga sekolah tentang pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana. P- kedua ialah pemahaman, yaitu memberikan pemahaman tentang program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. P- ketiga ialah pengorganisasian, maksudnya penyusunan struktur organisasi pemeliharaab sarana dan prasarana sekolah dan pembagian tugas, wewenang serta tanggung jawabnya. P- keempat ialah pelaksanaan, ialah pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah secara teratur sehingga menjadi suatu kebiasaan civitas sekolah. Terakhir, P- kelima ialah Pendataan, yaitu inventarisasi sarana dan prasarana ditinjau dari ketersediaan dan kondisinya, antara lain yaitu:
1. Penyadaran
Tahapan yang paling awal dalam pemeliharaan saran dan prasarana adalah tahap penyadaran pentingnya pemeliharaan saran dan prasarana sekolah. Dalam tahap ini perlu ditanamkan rasa memiliki (sense of belonging) sekolah dan menyadarkan pentingnya kebiasaan baik kepada semua guru dan siswa. Perlu diketahui bahwa yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah bukan hanya wakil kepala sekolah bidan saran dan prasarana saja, melainkan pula semua warga sekolah. Termasuk juga siswa, guru, penjaga sekolah, kepala sekolah, komite sekolah, maupun warga sekitar sekolah. Oleh karena itu, perlu penyadaran kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab tersebut.
Kepala sekolah perlu mengundang Kelompok Kerja Rencana Kerja Sekolah (KK-RKS) dan membentuk tim kecil untuk menginisiasi pengantar pemahaman pentingnya pemeliharaan saran dan prasarana sekolah. Kemudian, kepala sekolah dan guru atau tim kecil yang telah terbentuk, menyosialisasikan Buku Panduan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sekolah. Tugas selanjutnya ialah menyusun program pengenalan dan penyadaran pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
Pengenalan dan penyadaran pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu menggunakan rumus AMBAK, menjelaskan kerugian yang dapat terjadi jika pemeliharaan tidak dilakukan, dan menyosialisasikan penggunaan gedung sekolah. Cara pertama, yaitu menggunakan rumus AMBAK. AMBAK merupakan singkatan dari Apa Manfaatnya BAgi Ku. Cara kedua, ialah dengan menjelaskan besarnya biaya yang harus dikeluarkan jika pemeliharaan sarana dan prasarana tidak dilakukan. Mungkin awalnya hanya butuh perhatian untuk mengamati gejala kebocoran atap sekolah, tetapi karena tidak mendapat perhatian, sekolah dapat mengeluarkan biaya yang cukup fantastik. Kemudian, cara ketiga ialah dengan menyosialisasikan tata tertib dan memasang pesan-pesan pengingat penggunaan saran dan prasaran sekolah. Tata tertib penggunaan sarana dan prasarana perlu disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah. Komite sekolah juga perlu ikut menyosialisasikan kepada para siswa, pengguna gedung sekolah, dan warga sekitar. Berikut contoh tata tertib penggunaan gedung sekolah. Tata tertib ini dapat ditambahi oleh tim pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
Tata Tertib Penggunaan Sarana dan Prasarana Sekolah
a. Jagalah kebersihan dan kerapian ruangan.
b. Bersihkan alas kaki sebelum memasuki ruangan.
c. Buanglah sampah pada tempatnya.
d. Pemeliharaan kebersihan dinding, perlengkapan, serta perabotan sekolah.
e. Periharalah perabotan atau barang agar tidak menempel pada dinding.
f. Matikan lampu jika tidak diperlukan.
g. Hindari membuang apa pun pada kloset dan saluran air kotor.
h. Tutuplah selalu keran air dengan baik dan sampai tidak menetes.
i. Hindari melempar apa pun kea tap bangunan.
j. Apabila terdapat permasalahan pada bangunan dan fasilitas sekolah segera laporkan pada tim pemeliharaan gedung.
Selain itu, penyadaran juga dapat dilakukan dengan cara memasang pesan-pesan pengingat pemeliharaan saran dan prasarana di tempat-tempat yang strategis. Pesan-pesan atau moto yang dapat dipasang di tempat yang strategis, antara lain:
a. Kebersihan sebagian dari iman,
b. Hari gini, kelas masih kotor,
c. Aku malu kelas ku kotor,
d. Buanglah sampah pada tempatnya,
e. Hapuslah papan tulis setelah digunakan,
f. Gunakan air seperlunya, dan lain-lain
2. Pemahaman
Pemahaman diberikan kepada stakebolders dengan cara menjelaskan program pemeliharaan yang dibuat oleh sekolah. Program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah mencakup maafaat pemeliharaan, tujuan dan sasaran, hubungan pemeliharaan dengan manajemen aser sekolah, jenis pemeliharaan dan lingkup masing-masing serta peran serta seluruh stakeholders. Program pemeliharaan perlu dijelaskan secara utuh agar tujuan pemeliharaan dapat tercapai dengan optimal.
Di samping program pemeliharaan, ada hal penting yang harus dipahami oleh semua pihak dalam lingkungan sekolah. Hal penting itu berkaitan dengan kebiasaan warga sekolah. Banyak masalah yang terjadi justru karena kebiasaan buruk pengguna sekolah itu sendiri. Beberapa kebiasaan yang menimbulkan masalah DBE-1 & USAID dalam Barnawi dan Arifin (2012:232-236), baik yang dilakukan para siswa, guru penjaga sekolah, dan warga sekolah anatara lain diuraikan di bawah ini:
a. Hal-hal yang seringkali dilakukan siswa
1) Membuang sampah sembarangan (sisa pembungkus makanan, sisa makanan) tidak dibuang pada tempat sampah, tetapi dibuang dalam saluran drainase depan selasar.
2) Setelah makan jajan tidak cuci tangan, tetapi dioleskan pada dinding sehingga permukaan dinding terdapat bercak noda.
3) Saat istirahat, sambil bersandar pada dinding salah satu kaki diangkat dan disandarkan pada dinding sehingga akan tercetak alas sepatu/kaki menempel di permukaan dinding.
4) Sisa makanan yang terjatuh tidak dibuang di tempat sampah, tetapi diinjak-injak sehingga permukaan lantai bercak noda yang menempel.
5) Bermain ayunan pada handel slot pintu, menyebabkan handel slot patah, baut lepas, dan rusak.
6) Bermain kait angin yang terpasang di jendela dengan cara diputar-putar sehingga lepas dan tidak terpasang kembali. Akibatnya, jendela tidak dapat dibuka sempurna karena alat penahan jendela agar tetap terbuka hilang sehingga mengganggu sirkulasi udara/pencahayaan di dalam ruangan.
7) Bermain keran air dengan membuka dan menutup terlalu keras, menyebabkan putaran/engkel keran rusak.
8) Bermain saklar lampu dengan cara diutak-atik tombol on-off-nya, menyebabkan kabel instansi putus/lepas sehingga jaringan tidak terkoneksi/konsleting atau tombola us/lepas.
9) Melakukan corat-coret pada dinding menggunakan pensil warna, spidol, atau pecah genting/bata.
10) Melakukan corat-coret pada permukaan kayu menggunakan kapur, tipe-x, atau bulpoin.
11) Melakukan corat-coret (gambar/tulisan) pada permukaan jendela kaca yang berdebu.
12) Cara duduk di dalam ruanagan dengan bersandar pada dinding setiap hari. Akibatnya, permukaan dinding menjadi kotor bernoda hitam/berminyak karena bekas gesekan punggung atau rambut kepala.
b. Hal-hal yang seringkali dilakukan oleh guru atau kepala sekolah
1) Karena tidak tersedia lahan parker kendaraan, guru memarkir kendaraan di selaras depan kelas. Akibatnya, permukaan lantai (keramik) tergores menghitam dan permukaan dinding tergores menghitam dan permukaan dinding tergores serang/spion kendaraan dengan meninggalkan bekas goresan menghitam atau permukaan cat lepas mengelupas.
2) Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, tidak mematikan lampu.
3) Memasang gambar, foto, papan pengumuman, majalah dinding, paoan statistik pada permukaan dinding atau partisi, menyebabkan permukaan dinding berlubang bekas paku atau bahkan plesteran dinding retak, pecah, atau mengelupas.
4) Membuang tisu bekas, abu dan putung rokok, serta bekas pembungkus makanan tidak pada tempatnya.
5) Memberikan contoh buruk kepada siswa dalam membuang sampah sembarangan dan lainnya.
c. Hal-hal seringkali dilakukan oleh penjaga sekolah
1) Pada saat membuka dan menutup dauin pintu/jendela, dilakukan dengan cara ditarik atau didorong/ditekan dengan keras sehingga mengakibatkan ram daun pintu/jendela bergelombang, tidak bisa ditutup dengan sempurna, engsel dan slot arus.
2) Tidak segera melakukan pengelapan permukaan lantai bekas tumpahan minuman sehingga permukaan lantai kusam karena bekas noda.
3) Tidak kontinu mengisi bak recervoir dan dibisrksn kosong. Jika terus-menerus berlangsung menyebabkan bak reservoir retak/bocor.
4) Jarang melakukan pembersihan closet, bak air, dan lantai KM/WC sehingga KM/WC terlihat kumuh, bau tidak sedap dan permukaan lantai licin.
5) Jarang melakukan pembersihan/penyapuan halaman sekitar gedung sehingga lingkungan terlihat kumuh.
6) Kebiasaan menyalakan pompa air tanpa pernah melakukan pengecekan kondisi air dalam pipa isap pompa. Akibatnya, pompa mengalami panas dan spul terbakar.
7) Salah satu bagian genteng lepas tidak segera dilakukan perbaikan/pemanasan kembali.
8) Lupa menutup dan mengunci pintu ruangan dan jendela. Akibatnya, barang-barang di dalam ruangan tersebut tidak aman.
9) Berharap orang lain akan membereskannya.
Secara umum, baik siswa, guru, kepala sekolah, penjaga sekolah masalahnya hampir sama, yaitu hanya mau menggunakan, tetapi mengabaikan pemeliharaannya.
d. Hal-hal yang seringkali dilakukan olehb masyarakat di sekitar sekolah
1) Menggembalakan ternak, menjemur pakaian/hasil bumi di halaman sekolah atau menjemur pakaian pda pagar sekolah, menyebabkan lingkungan sekolah menjadi kumuh.
2) Bermain bola dihalaman sekolah, ketika bola ditendang mengenai jendela kaca/genteng tersebut pecah atau dapat merusak taman-taman yang ada.
3) Salah anggapan bahwa sekolah dan pemeliharaannya adalah urusan Dinas Pendidikan, bukan sebagai milik mereka bersama.
3. Pengorganisasian
Tahap pengorganisasian merupakan tahap yang sangat penting. Pada tahap ini diatur dengan jelas siapa yang bertanggung jawab, siapa yang melaksanakan, dan siapa yang mengendalikannya. Pengorganisasian pengelola pemeliharaan melibatkan semua warga sekolah, yaitu kepada sekolah, guru, siswa, komite sekolah, dan tim teknis pemeliharaan. Organisasi membagi personel pemeliharaan berdasarkan waktu pemeliharaan sarana dan prasarana. Tim ini berasala dari unsure guru, wali murid, komite sekolah, dan anggota masyarakat. Pengorganisasiannya terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara, pelaksana teknis, dan surveyor.
Struktur organisasi yang telah dibentuk tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak dijabarkan dengan jelas tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya. Tugas, tanggung jawab, dan wewenang berfungsi sebagai panduan personel pemeliharaan dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan. Berikut ini DBE-1 & USAID dalam Barnawi dan Arifin (2012: 237) beberapa tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk tiap-tiap jabatan yang dapat dimodifikasi sendiri sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Kepala Sekolah
a. Memiliki tugas:
1) Bersama-sama dengan komite sekolah menunjuk personel yang akan dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan banguna gedung sekolah.
2) Membina hubungan kerja sama yang baik dengan guru, komite sekolah, wali murid, dan masyarakat yang ditunjuk selaku personel yang dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan.
3) Mengoordinasikan seluruh personel yang ditunjuk dengan memberikan arahan kebijakan, informasi, dan bimbingan dalam melaksanakan pemeliharaan gedung sekolah.
b. Tanggung jawab:
1) Bertanggung jawab penuh terhadap seluruh hasil yang dicapai dalam kegiatan pemeliharaan.
2) Bertanggung jawab terhadap pengelolaan gedung sekolah karena sarana penunjangnya.
c. Wewenang:
Mengadakan pengawasan, monitoring, dan evaluasi secara periodic terhadap seluruh kegiatan pemelihraan yang dilakukan oleh kelompok kerja.
Guru/Guru Kelas
a. Memiliki tugas:
1) Mencatat dan menyusun administrasi mengenai seluruh asset sarana dan prasarana yang dikelola pihak sekolah.
2) Memberikan pengertian atau pemahaman kepada seluruh siswa tentang pentingnya keikutsertaan mereka dalam menjaga bangunan gedung sekolah beserta saran penunjangnnya.
3) Memberikan informasi atau petunjuk dan bimbingan dalam menjaga kebersihan gedung dan lingkungannya.
b. Tanggung jawab:
1) Memeriksa dan menjaga kebersihan ruangan dan saran prasarannya sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar berlanngsung.
2) Memberikan motivasi melaksanakan kebersihan ruangan dengan memberi contoh kepada seluruh siswa dengan menyapu lantai atau membersihkan ruangan yang selanjutnya akan dilaksanakan seluruh siswa dengan pembagian tugas bergilir (piket) di masing-masing kelas.
c. Wewenang:
Mengadakan pengawasan, monitoring, dan evaluasi hasil kerja para siswa yang telah melaksanakan kegiatan pemeliharaan harian atau mingguan.
Ketua Komite Sekolah
a. Memiliki tugas:
1) Bersama kepals sekolah menunjuk personel yang akan dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan bangunan gedung sekolah.
2) Membina hubungan kerja sama yang baik dengan manajemen sekolah, anggota komite, wali murid, dan masyarakat yang ditunjuk selaku peersonel yang dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan.
b. Tanggung jawab:
1) Menyusun kebutuhan dan anggaran yang diperlukan untuk kegiatan pemeliharaan gedung sekolah.
2) Berkoordinasi dengan seluruh anggota komite yang lain dan bersama dengan wali murid menggalanng dana yang nantinya dipergunakan untuk melaksanakan pemeliharaan dan perawatan gedung sekolah.
c. Wewenang:
1) Mengadakan evaluasi terhadap hasil inventori kondisi gedung dan saran penunjangnya.
2) Menyetujui rencana dan tindak lanjut dalam penanganan pemeliharaan gedung selanjutnya.
3) Selaku pengawas seluruh kegiatan pemeliharaan termasuk di dalamnya adalah pengawasan pengelolaan anggaran kegiatan pemeliharaan.
Tim Teknis Pemeliharaan
a. Ketua Tim (coordinator):
1) Mengoordinasi tugas-tugas sekertaris, bendahara, surveyor, dan pelaksanaan teknis.
2) Menyusun rencana kerja, jadwal kerja, dan anggaran kegiatan pemeliharaan.
3) Mengoordinasi dan mengawasi pelaksanaan pemeliharaan bangunan gedung beserta saran penunjangnya.
4) Mengadakan inspeksi langsung secara teratur ke seluruh ruangan/bangunan untuk memeriksa kondisi kerusakannya.
5) Meneliti laporan dan masukan-masukan sebelum disampaikan kepada kepala sekolah dan komite.
6) Menerapkan prosedur panduan pemeliharaan gedung sekolah system pencatatan dokumen hasil survey, dan pengarsipan seluruh dokumen pelaporan dengan teratur.
7) Memelihara dan membina hubungan kerja dengan seluruh personel yang terlibat.
8) Bertanggung jawab penuh dan melaporkan hasil kegiatan kepada kepala sekolah selaku penanggung jawab kegiatan dan ketua komite sekolah selaku pengawas kegiatan.
b. Sekertaris:
1) Melakukan tugas-tugas administrative berupa pengarsipan dokumen sederhana, mencatatan notulen kegiatan rapat (koordinasi), dan hal-hal penting lainnya serta penyusunan pelaporan.
2) Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu berkoordinasi dengan ketua tim dan bertanggung jawab langsung kepada ketua tim.
c. Bendahara:
1) Melakukan pengelolaan, pencatatan, dan pelaporan keuangan dengan tertib dan penuh tanggung jawab.
2) Membuat pengajuan permohonan anggaran dana pemeliharaan yang diperlukan untuk kegiatan pemeliharaan dan perawatan.
3) Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu berkoordinasi dengan ketua tim dan bertanggung jawab kepada ketua tim.
d. Surveyor (pendataan):
1) Melakukan pendataan kerusakan-kerusakan seluruh komponen bangunan.
2) Melakukan dokumentasi, pengukuran, perhitungan, dan pencatatan seluruh kegiatan dan hasil pendataan kerusakan bangunan.
3) Menyusun pelaporan hasil pendataan dan disampaikan kepada ketua tim
4) Bertanggung jawab penuh kepada ketua tim.
e. Pelaksana Teknik:
1) Memimpin dan mengatur seluruh pekerja (tukang dan tenaga) dalam melaksanakan perawatan gedung sekolah agar terkoordinasi dengan baik,n sehingga dapat mencapai hasil sesuai dengan target dan sasaran serta spesifikasi teknis yang diisyaratkan.
2) Mempelajari dokumen bestek (gambar kerja, spesifikasi teknis, dan anaggaran pelaksanaan).
3) Menghitung kebutuhan material dan tenaga untuk melaksanakan perawatan bangunan.
4) Berkoordinasi dengan sekretaris dan bendahara dalam menyusun laporan maupun pengajuan anggaran perawatan.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan pemeliharaan terbagi menjadi pemeiharaan rutin dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan rutin bertujuan untuk menjaga sarana dan prasarana agar tetap dalam kondisi nyaman dan bertahan lama. Kegiatan mencakup membersihkan semua komponen didalam maupun di luar ruangan dan merapikan letak benda-benda oleh karena itu, dalam pemeliharaan rutin harus ada pembagian wilayah tugas dengan jelas, siapa bagian halaman, siapa bagian taman, siapa yang bagian ruang, dan lain-lain.
Kegiatan pemeliharaan rutin dapat menjadi sarana guru untuk mendidik karakter siswa agar sesuai dengan nilai-nilai universal. Nilai-nilai yang diharapkan muncull dalam diri siswa, diantaranya pwduli lingkungan, tanggung jawab, dan disiplin. Karakter pedulli lingkungan dapat muncul dalam diri siswa jika dibiasakan untuk menjaga kebersihan dan memelihara lingkungan agar tetap sehat dan nyaman untuk beraktivitas. Karakter tanggung jawab dapat muncul dengan menyadarkan kepada siswa bahwa rasa memiliki terhadap sekolah harus dimiliki oleh setiap warga sekolah. Sementara karakter disiplin dapat muncul melalui penjadwalan dan pengawasan piket pemeliharaan sekolah.
Daftar kegiatan pemeliharaan rutin untuk menjaga sarana dan prasarana tetap dalam keadaan baik sebagai berikut:
a. Sapu dan pel lantai ruang-ruang sekolah dan bagian beranda setiap hari supaya kebersihan tetap dijaga. Supaya lebih bersih, pendidikan perabotan pada ruang-ruang sekolah tiap minggu kemudian bersihkan lantai ruang-ruang secara keseluruhan.
b. Pemeliharaan kebersihan dinding dari kotoran atau gangguan sayap dan serangga lainnya. Apabila dinding menggunakan cat minyak atau cat air, dinding dapat dibersihkan dengan mmenggunakan sikat dan air bersih. Bersihkan jendela-jendela dengan menggunakan lap dan air bersih. Lakukan kegiatan ini secara teratur seminggu sekali.
c. Setelah kegiatan belajar mengajar berakhir periksalah kondisi seluruh bagian bangunan sekolah serta keamanannya.
d. Bersihkan WC setiap hari dengan menggunakan sikat dan air bersih.
e. Apabila terdapat wastafel pada gedung sekolah, wastafel tersebut dan saluran pembuangan air lainnya sebaiknya dibersihkan setiap hari.
f. Periksa dan rawat seluruh komponen-komponen gedung, beri pelumas pada engsel-engsel daun pintu dna jendela, kencangkan seluruh skrup pada bagian pegangan kunci, dan lain-lain secara teratur.
g. Periksa dan rawat perlengkapan kebersihan setiap hari. Kembalikan seluruh perlengkapan ke gedung atau tempat penyimpanan alat-alat kebersihan setelah digunakan. Pastikan seluruh perlengkapan dalam kondisi kering supaya tidak terjadi kelembapan diruang penyimpanan tersebut.
h. Potong dan rapikan rumput yang tumpuh pada sekeliling bangunan sekolah setiap hari (terutama pada musim hujan).
i. Bersihkan dan periksa parit/saluran pembuangan air pada sekeliling bangunan sekolah setiap minggu (terutama pada musim hujan).
j. Kumpulkan sapah-sampah yang ada. Bakar sampah-sampah tersebut pada tempat pembakaran sampah setiap hari atau setiap minggu (tergantung pada banyaknya sampah yang ada) dan timbun abunya (Wakeham dalam Barnawi dan Arifin, 2012:246).
Menurut Bafadal (2014: 48-53) berikut ini dikemukakan beberapa contoh pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala, sebagaimana dituntunka di dalam buku Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Barang Perlengkapan yang disusun oleh Dinas Pendidikan Nasional.
Perlengkapan yang dicontohkan berikut ini misalnya laboratorium, instalasi air, instalansi listrik, meja tulis, mesin stensil, dan almari besi. Pemeliharannya seperti berikut.
1. Laboratorium
a. Pemeliharaan sehari-hari
Seperti menyapu, mengepel lantai, membersihkan pintu, jendela kaca, dan lain-lain, dilaksanakan oleh petugas yang telah ditunjuk.
b. Pemeliharaan berkala
Sekurang-kurangnya sebulan sekali harus dikontrol atap dinding dan lainnya. Apabila ada kebocoran, keretakan, atau kerusakan lain dan bila tidak dapat diatasi oleh petugas yang bersangkutan, segera laporkan kepada pimpinan untuk segera diusahakan perbaikannya. Untuk pemeliharaan berkala ini dibuatkan kartu pemeliharaannya.
2. Instalasi air
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Setiap hari pemakaian air harus diperhatikan, setiap habis memakainya karan harus ditutup.
2) Bak penampung air, wastafel, dan lain-lain harus dibersihkan.
b. Pemeliharaan berkala
1) Sekurang-kurangnya sebulan sekali harus dikontrol, apakah pipa dan meteran air berjalan dengan baik atau tidak. Apabila terdapat pipa yang bocor dan tidak dapat diatasi sendiri oleh petugas, segera lapor pada pimpinan yang berwenang untuk perbaikannya.
2) Apabila meteran tidak berjalan dengan baik, segera laporkan kepada Perusahaan Air Minum (PAM) untuk segera diperbaiki. Kartu pemeliharaannya dapat disatukan dengan kartu pemeliharaan gedung yang bersangkutan.
3. Instalasi listrik
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pemakaian aliran harus diperhatikan. Pada siang hari, dalam ruang yang cukup terang, lampu dipadamkan. Demikian pula pada malam hari, pada ruang yang tidak perlu penerangan lampu dapat dimatikan.
2) Panel/kotak sikring diperiksa.
3) Bola-bola lampu diperiksa, bila ada yang diputus segera diganti.
b. Pemeliharaan berkala
1) Sekurang-kurangnya sebulan sekali instalasi harus dikontrol, terutama pada meteran pemakai, apakah ada kelainan pada meteran atau kelebihan pemakaian arus aliran (stroom). Jika ada, laporkan pada PLN. Pimpinan memberikan peringatan pada bawahan agar menghemat pemakaian aliran (stroom).
2) Instalasi jaringan kabel agar dikontrol, jika ada kerusakan yang tidak dapat diatasi sendiri oleh petugas, segera lapor pada PLN atau instalatur. Kartu pemeliharaannya dapat disatukan pada kartu pemeliharaan gedung.
4. Mesin tulis
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Membersihkan debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Memeriksa pita mesin apakah masih dalam keadaan baik atau sudah rusak.
3) Setiap habis dipakai, dibersihkan huruf-hurufnya, dan mesin ditutup kembali dengan tutup yang tersedia.
b. Pemeliharaan berkala
1) Apabila mesin setiap hari dipakai terus-menerus, sekurang-kurangnya sebulan sekali diminyaki dengan minyak pelumas yang bisa digunakan untuk mesin tulis.
2) Apakah pita mesin sudah tidak nyala lagi, agar segera diganti.
3) Sekurang-kurangnya 6 bulan sekali direparasi oleh tenaga ahli, jika ada kerusakan padakomponen-komponennya, perlu diperbaiki oleh tenaga ahli.
5. Mesin stensil
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pembersihan dari debu yang melekat pada tutup mesin dan pada mesin sendiri.
2) Periksa peralatannya, apakah ada kelainan atau kerusakan untuk siap pakai.
b. Pemeliharaan berkala
1) Dibersihkan setiap selesai dipakai.
2) Mengganti peralatan yang rusak.
3) Sekurang-kurangnya sebulan sekali diadakan pengecekan peralatan.
4) Sekurang-kurangnya 6 bulan sekali direparasi.
6. Mesin hitung
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pembersihan dari debu dan kotoran lain yang melekat
2) Pemakaiannya agar berhati-hati, sehingga alat-alat di dalamnya tidak mudah rusak.
b. Pemeliharaan berkala
1) Mengganti kertas strook bila habis.
2) Sekurang-kurangnya setiap bulan sekali, diadakan pengecekan keadaan peralatannya. Jika ada kerusakan sewaktu-waktu, segera diperbaiki oleh tenaga ahli.
3) Pelaksanaan pemeliharaan berkala sesuai dengan petunjuk dari pabriknya.
4) Untuk mesin hitung ini sama dengan mesin yang lainnya, dibuatkan kartu pemeliharaannya.
7. Filing cabinet/almari besi
a. Pemelihaan sehari-hari
1) Membersihkan debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Mengunci dan membuka serta menarik dan mendorong laci-lacinya dilakukan secara hati-hati.
b. Pemeliharaan berkala
Semua filing cabinet dan almari besi harus selalu dalam keadaan terkunci setelah habis jam kerja. Pemeliharaan berkalanya dicatat dalam kartu pemeliharaan, sama dengan lainnya.
8. Kipas angin
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Membersihkan dari debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Penempatannya agar sesuai dengan keperluan di tempat yang tidak mengganggu.
b. Pemeliharaan berkala
1) Pemindahan dari satu tempat ke tempat lain agar berhati-hati, kalau bisa tidak perlu banyak dipindahkan, karena mungkin akan membuatnya lebih cepat rusak.
2) Perbaiki bila ada kerusakan atau kemacetan.
9. Mesin tulis listrik
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Dibersihkan dari debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Diperiksa peralatan apabila ada kelainan.
b. Pemeliharaan berkala
1) Setiap selesai memakai, kontak listrik harus dicabut.
2) Selesai memakai, ditutup kembali dengan penutupnya (plastik/kain).
3) Jika ada kerusakan, agar diperiksa dan dibetulkan oleh tenaga ahli.
10. Kalkulator
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pembersihan dari debu/kotoran lain yang melekat.
2) Setiap habis memakai, kontak listrik agar dicabut.
3) Ditutup dengan penutup plastik/lainnya bila selesai memakainya.
b. Pemeliharaan berkala
Jika ada kerusakan, agar diperiksa dan dibetulkan oleh tenaga ahli.
11. Sound system
a. Pemeliharaan
1) Membersihkan dari debu dan kotoran lain yang melekat pada semua komponen.
2) Sebelum pemakaian, agar diperiksa peralatannya melalui tes suara.
3) Jika ada kelainan, dicari penyebabnya, dicek semua kontak.
b. Pemeliharaan berkala
Apabila ada kerusakan, segera diperbaiki oleh ahlinya. Pemeliharaannya dicatat dalam kartu, sebagai contoh, kartu pemeliharaan kelompok elektronik.
5. Pendataan
Pendataan saran dan prasarana dilakukan untuk menginventarisasi saran dan prasaran sekolah terkait dengan ketersediaan dan kondisinya. Petugas yang ditunjuk untuk menyurvei saran dan prasarana harus memahami komponen apa saja yang perlu diinventarisasi dan kondisi yang perlu diamati dan dicatat. Hasil pendataan akan sangat bermanfaat untuk mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasaran dan tuntuk kepentingan pelaporan. Selain itu, data hasil survei juga bermanfaat untuk mrngajukan pengadaan barang pengganti ke Dinas Pendaiaikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan selalu siap digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan.
Tujuan dalam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan yaitu untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan, untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang optimal, untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pengecekan secara rutin dan teratur, dan untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut.
Pemeliharaan ada empat macam apabila ditinjau dari sifatnya, yaitu pemeliharaan yang bersifat pengeekan, bersifat pengecekan, bersifat pengecekan ringan, dan bersifat perbaikan berat.
Manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan sangat menunjang bagi keberlangsungan efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar. Jika peralatan terpelihara baik umurnya akan awet yang berarti tidak perlu mengadukan penggantian dalam waktu yang singkat.
Tugas pengelola perlengkapan setelah mendapatkan barang selain memelihara adalah menata perlengkapan sarana dan prasarana pendidikan yang rapi dan tertib, serta penempatannya tidak mengganggu pada personal yang lain.
Menurut Barnawi dan Arifin (2012: 228) tahapan dalam memelihara sarana dan prasarana sekolah dapat dirumuskan menjadi 5P, yaitu Penyadaran, Pemahaman, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pendataan.
B. Saran
Hendaknya kepala sekolah sebagai administrator harus mengetahui langsung sarana prasarana apa saja yang ada disekolahan dan bagaimana keadaannya.
Melakukan sisi pencatatan yang tepat sehingga mudah diketahui dan di kerjakan.
Administrasi peralatan dan perlengkapan pengajaran harus senantiasa di tinjau dari segi pelayanan untuk turut memperlancar pelaksanaan program pengajaran
Kondisi-kondisi di atas akan terpenuhi jika administrator mengikutsertakan semua guru dalam perencanaan seleksi, distribusi dan penggunaan serta pengawasan peralatan dan perlengkapan pengajaran.
DAFTAR PUSTAKA
http://noerzusniyaap14.blogspot.com/2016/04/makalah-pemeliharaan-sarana-dan.html
https://www.google.com/search?q=gambar+memelihara+sarana+dan+prasarana+pendidikan&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwizp5fX2JThAhVBfysKHdCUDS4Q_AUIDigB&biw=1366&bih=667#imgrc=lRzFe2j-CxMyiM:
AssalamuAlaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan menyebut Nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami kelompok 5, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Jasmani”.Makalah ini telah kami susun dengan baik. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari Bapak/Ibu Pembimbing mata kuliah agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat diterima oleh Bapak/Ibu Pembimbing mata kuliah. Sekian dan terima kasih
WassalamuAlaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Makassar, 05 Mei 2019
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sarana dan Prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang dalam pencapaian keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Tentunya hal tersebut dapat dicapai apabila ketersedian sarana dan prasarana yang memadai disertai dengan pengelolaan secara optimal.
Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan istilah KTSP dimana penerapan desentralisasi pengambilan keputusan, memberikan hak otonomi penuh terhadap setiap tingkat satuan pendidikan, untuk mengoptimalkan penyedian, pendayagunaan, perawatan dan pengendalian sarana dan prasarana pendidikan. Sekolah dituntut untuk memiliki kemandirian untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sekolah menurut kebutuhan berdasarkan aspirasi dan partisipasi warga sekolah dengan tetap mengacu pada peraturan dan perundang undangan pendidikan nasional yang berlaku.
Untuk mewujudkan dan mengatur hal tersebut pemerintah melalui PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan, pasal 1 ayat (8) mengemukakan standar sarana dan prasarana adalah Standar Nasional Pendidikan yang berkaitan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi dan berkreasi, serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas disebutkan bahwa; (1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi salah satu tolok ukur dari mutu sekolah. Tetapi fakta dilapangan banyak ditemukan sarana dan prasarana yang tidak dioptimalkan dan dikelola dengan baik untuk itu diperlukan pemahaman dan pengaplikasian manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah. Bagi pengambil kebijakan di sekolah pemahaman tentang sarana dan prasarana akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana ia dapat berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal guna mencapai tujuan pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
2. Apakah tujuan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
3. Apa saja macam-macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
4. Apakah manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
5. Apa saja prinsip-prinsip pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
6. Bagaimanakah tahap pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan?
C. Tujuan
1. Pembaca dapat mengetahui pengertian pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
2. Pembaca dapat mengetahui tujuan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
3. Pembaca dapat mengetahui macam-macam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
4. Pembaca dapat mengetahui manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
5. Pembaca dapat mengetahui prinsip-prinsip pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
6. Pembaca dapat mengetahui tahap pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan.
D. Manfaat
Manfaat yang bisa kita dapat dalam penulisan makalah tentang materi ini adalah selain untuk melatih penulis dalam pembuatan makalah, diharapkan juga agar materi ini dapat dipahami oleh penulis dan pembaca. Dalam materi ini masalah yang dihadapi adalah bagaimana cara kita untuk dapat memelihara sarana dan prasarana yang ada di sekolah-sekolah atau di tempat lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:268-269) pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan selalu siap digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. Pemeliharaan mencakup segala daya upaya yang terus-menerus mengusahakan agar peralatan tersebut tetap dalam keadaan baik. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. Pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.
Gambar 2.1 Sarana dan Prasarana di Sekolah
B. Tujuan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Gunawan dalam Minarti (2011:269) tujuan dalam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan. Hal ini sangat penting, terutama jika dilihat dari aspek biaya karena untuk membeli suatu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan merawat bagian dari peralatan tersebut.
2. Untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hati yang optimal.
3. Untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pengecekan secara rutin dan teratur.
4. Untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut.
C. Macam-Macam Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:270) dalam pemeliharaan, ada empat macam apabila ditinjau dari sifatnya, yaitu (1) pemeliharaan yang bersifat pengeekan; (2)
bersifat pengecekan; (3) bersifat pengecekan ringan; (4) bersifat perbaikan berat. Apabila ditinjau dari waktu pemeliharaannya, ada dua macam, yaitu (1) pemeliharaan sehari-hari (menyapu, mengepel lantai, dan sebgainya), (2) pemeliharaan berkala (pengontrolan genting, pengapuran tembok, dan sebainya). Kegiatan pemeliharaan dilakukan agar setiap sarana dan prasarana pendidikan selalu siap pakai dalam proses/kegiatan belajar mengajar.
Sedangkan menurut Bafadal (2014: 48) ada beberapa macam pemelihraan perlengkapan pendidikan di sekolah. Ditinjau dari sifatnya, ada empat macam pemeliharaan perlengkapan pendidikan. Kempat pemeliharaan tersebut cocok dilakukan pada perlengkapan pendidikan berupa mesin. Pertama, pemeliharaan yang bersifat pengecekan. Pengecekan ini dilakukan oleh seseorang yang mengetahui tentang baik buruknya keadaan mesin. Kedua, pemeliharaan yang bersifat pencegahan. Pemeliharaan dengan cara demikian itu dilakukan agar kondisi mesin selalu dalam keadaan baik. Misalnya sekolah memiliki sepeda motor dinas hendakya setiap hari dilakukan pemeriksaan terhadap minyak rem dan bensinnya. Ketiga, pemeliharaan yang bersifat perbaikan ringan, seperti perbaikan remnya. Keempat, perbaikan berat.
Ditinjau dari waktu perbaikannya, ada dua macam pemeliharaan perlengkapan sekoalah, yaitu pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan sehari-hari, misalnya, berupa menyapu, mengepel lantai, dan membersihkan pintu. Sedangkan pemeliharaan berkala, misalnya berupa pengontrolan genting dan pengaporan tembok.
D. Manfaat Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:270) manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan sangat menunjang bagi keberlangsungan efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Manfaat lain antara lain adalah sebagai berikut:
1. Jika peralatan terpelihara baik, umurnya akan awet yang berarti tidak perlu mengadukan penggantian dalam waktu yang singkat.
2. Pemeliharaan yang baik mengakibatkan jarang terjadi kerusakan yang berarti biaya perbaikan dapat diterakan seminim mungkin.
3. Dengan adanya pemeliharaan yang baik, akan lebih terkontrol sehingga menghindari kehilangan.
4. Dengan adanya pemeliharaan yang baik, enak dilihat dan dipandang.
5. Pemeliharaan yang baik memberikan hasil pekerjaan yang baik.
E. Prinsip-Prinsip Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Minarti (2011:271-272) tugas pengelola perlengkapan setelah mendapatkan barang selain memelihara adalah menata perlengkapan sarana dan prasarana pendidikan yang rapi dan tertib, serta penempatannya tidak mengganggu pada personal yang lain. Salah satunya dalam menata kantor lembaga. Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menata ruangan, antara lain sebagai berikut:
1. Suatu tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memungkinkan semua personal tata usaha dapat menempuh jarak yang sependek-pendeknya dalam setiap menyelesaikan pekerjaan ketatausahaannya.
2. Bagian-bagian kantor lembaga yang memiliki tugas atau fungsi yang sama dan saling berkaitan hendaknya diletakkan secara berdekatan.
3. Tata ruang yang ideal pada dasarnya adalah tata ruang yang menempatan para personel dan alat-alatnya berdasarkan alur proses kerjaannya.
4. Kantor yang baik adalah kantor yang punya ventilasi. Oleh karena itu, meja dan perabot lainnya harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap bagian kantor mendapatkan cahaya dan pertukaran udara yang cukup.
5. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memanfaatkan ruangan semaksimal mungkin. Oleh karena itu, suatu tata ruang yang baik adalah tata ruang yang menggunakan seluruh ruang yang ada, baik ruang lantai maupun dindingnya.
6. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang dapat dengan mudah disusun kembali bila diperlukan.
7. Tata ruang yang baik adalah tata ruang yang memisahkan pekerjaan yang berbunyi keras dan mengganggu pekerjaan lainnya.
Penggunaan perlengkapan lembaga sekolah pun, harus memerhatikan prinsip-prinsip efektivitas dan efisiensi. Prinsip efektivitas berarti semua penggunaan harus ditujukan semata-mata untuk memperlancar pencapaian tujuan pendidikan. Sedangkan, prinsip efisiensi berarti penggunaan semua perlengkapan secara hemat dan dengan hati-hati. Hal ini juga berarti bahwa perlengkapan yang digunakan harus sesuai dengan fungsinya sehingga dapat mengurangi kerusakan pada barang tersebut. Misalnya, penggunaan komputer yang digunakan untuk keperluan kantor, bukan untuk yang lainnya.
Gambar 2.2 Menata ruangan sesuai dengan fungsinya
F. Tahap Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Menurut Barnawi dan Arifin (2012: 228) tahapan dalam memelihara sarana dan prasarana sekolah dapat dirumuskan menjadi 5P, yaitu Penyadaran, Pemahaman, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pendataan. P- pertama ialah penyadaran, yaitu upaya menanamkan kesadaran kepada warga sekolah tentang pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana. P- kedua ialah pemahaman, yaitu memberikan pemahaman tentang program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah. P- ketiga ialah pengorganisasian, maksudnya penyusunan struktur organisasi pemeliharaab sarana dan prasarana sekolah dan pembagian tugas, wewenang serta tanggung jawabnya. P- keempat ialah pelaksanaan, ialah pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah secara teratur sehingga menjadi suatu kebiasaan civitas sekolah. Terakhir, P- kelima ialah Pendataan, yaitu inventarisasi sarana dan prasarana ditinjau dari ketersediaan dan kondisinya, antara lain yaitu:
1. Penyadaran
Tahapan yang paling awal dalam pemeliharaan saran dan prasarana adalah tahap penyadaran pentingnya pemeliharaan saran dan prasarana sekolah. Dalam tahap ini perlu ditanamkan rasa memiliki (sense of belonging) sekolah dan menyadarkan pentingnya kebiasaan baik kepada semua guru dan siswa. Perlu diketahui bahwa yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah bukan hanya wakil kepala sekolah bidan saran dan prasarana saja, melainkan pula semua warga sekolah. Termasuk juga siswa, guru, penjaga sekolah, kepala sekolah, komite sekolah, maupun warga sekitar sekolah. Oleh karena itu, perlu penyadaran kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab tersebut.
Kepala sekolah perlu mengundang Kelompok Kerja Rencana Kerja Sekolah (KK-RKS) dan membentuk tim kecil untuk menginisiasi pengantar pemahaman pentingnya pemeliharaan saran dan prasarana sekolah. Kemudian, kepala sekolah dan guru atau tim kecil yang telah terbentuk, menyosialisasikan Buku Panduan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sekolah. Tugas selanjutnya ialah menyusun program pengenalan dan penyadaran pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
Pengenalan dan penyadaran pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu menggunakan rumus AMBAK, menjelaskan kerugian yang dapat terjadi jika pemeliharaan tidak dilakukan, dan menyosialisasikan penggunaan gedung sekolah. Cara pertama, yaitu menggunakan rumus AMBAK. AMBAK merupakan singkatan dari Apa Manfaatnya BAgi Ku. Cara kedua, ialah dengan menjelaskan besarnya biaya yang harus dikeluarkan jika pemeliharaan sarana dan prasarana tidak dilakukan. Mungkin awalnya hanya butuh perhatian untuk mengamati gejala kebocoran atap sekolah, tetapi karena tidak mendapat perhatian, sekolah dapat mengeluarkan biaya yang cukup fantastik. Kemudian, cara ketiga ialah dengan menyosialisasikan tata tertib dan memasang pesan-pesan pengingat penggunaan saran dan prasaran sekolah. Tata tertib penggunaan sarana dan prasarana perlu disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah. Komite sekolah juga perlu ikut menyosialisasikan kepada para siswa, pengguna gedung sekolah, dan warga sekitar. Berikut contoh tata tertib penggunaan gedung sekolah. Tata tertib ini dapat ditambahi oleh tim pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
Tata Tertib Penggunaan Sarana dan Prasarana Sekolah
a. Jagalah kebersihan dan kerapian ruangan.
b. Bersihkan alas kaki sebelum memasuki ruangan.
c. Buanglah sampah pada tempatnya.
d. Pemeliharaan kebersihan dinding, perlengkapan, serta perabotan sekolah.
e. Periharalah perabotan atau barang agar tidak menempel pada dinding.
f. Matikan lampu jika tidak diperlukan.
g. Hindari membuang apa pun pada kloset dan saluran air kotor.
h. Tutuplah selalu keran air dengan baik dan sampai tidak menetes.
i. Hindari melempar apa pun kea tap bangunan.
j. Apabila terdapat permasalahan pada bangunan dan fasilitas sekolah segera laporkan pada tim pemeliharaan gedung.
Selain itu, penyadaran juga dapat dilakukan dengan cara memasang pesan-pesan pengingat pemeliharaan saran dan prasarana di tempat-tempat yang strategis. Pesan-pesan atau moto yang dapat dipasang di tempat yang strategis, antara lain:
a. Kebersihan sebagian dari iman,
b. Hari gini, kelas masih kotor,
c. Aku malu kelas ku kotor,
d. Buanglah sampah pada tempatnya,
e. Hapuslah papan tulis setelah digunakan,
f. Gunakan air seperlunya, dan lain-lain
2. Pemahaman
Pemahaman diberikan kepada stakebolders dengan cara menjelaskan program pemeliharaan yang dibuat oleh sekolah. Program pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah mencakup maafaat pemeliharaan, tujuan dan sasaran, hubungan pemeliharaan dengan manajemen aser sekolah, jenis pemeliharaan dan lingkup masing-masing serta peran serta seluruh stakeholders. Program pemeliharaan perlu dijelaskan secara utuh agar tujuan pemeliharaan dapat tercapai dengan optimal.
Di samping program pemeliharaan, ada hal penting yang harus dipahami oleh semua pihak dalam lingkungan sekolah. Hal penting itu berkaitan dengan kebiasaan warga sekolah. Banyak masalah yang terjadi justru karena kebiasaan buruk pengguna sekolah itu sendiri. Beberapa kebiasaan yang menimbulkan masalah DBE-1 & USAID dalam Barnawi dan Arifin (2012:232-236), baik yang dilakukan para siswa, guru penjaga sekolah, dan warga sekolah anatara lain diuraikan di bawah ini:
a. Hal-hal yang seringkali dilakukan siswa
1) Membuang sampah sembarangan (sisa pembungkus makanan, sisa makanan) tidak dibuang pada tempat sampah, tetapi dibuang dalam saluran drainase depan selasar.
2) Setelah makan jajan tidak cuci tangan, tetapi dioleskan pada dinding sehingga permukaan dinding terdapat bercak noda.
3) Saat istirahat, sambil bersandar pada dinding salah satu kaki diangkat dan disandarkan pada dinding sehingga akan tercetak alas sepatu/kaki menempel di permukaan dinding.
4) Sisa makanan yang terjatuh tidak dibuang di tempat sampah, tetapi diinjak-injak sehingga permukaan lantai bercak noda yang menempel.
5) Bermain ayunan pada handel slot pintu, menyebabkan handel slot patah, baut lepas, dan rusak.
6) Bermain kait angin yang terpasang di jendela dengan cara diputar-putar sehingga lepas dan tidak terpasang kembali. Akibatnya, jendela tidak dapat dibuka sempurna karena alat penahan jendela agar tetap terbuka hilang sehingga mengganggu sirkulasi udara/pencahayaan di dalam ruangan.
7) Bermain keran air dengan membuka dan menutup terlalu keras, menyebabkan putaran/engkel keran rusak.
8) Bermain saklar lampu dengan cara diutak-atik tombol on-off-nya, menyebabkan kabel instansi putus/lepas sehingga jaringan tidak terkoneksi/konsleting atau tombola us/lepas.
9) Melakukan corat-coret pada dinding menggunakan pensil warna, spidol, atau pecah genting/bata.
10) Melakukan corat-coret pada permukaan kayu menggunakan kapur, tipe-x, atau bulpoin.
11) Melakukan corat-coret (gambar/tulisan) pada permukaan jendela kaca yang berdebu.
12) Cara duduk di dalam ruanagan dengan bersandar pada dinding setiap hari. Akibatnya, permukaan dinding menjadi kotor bernoda hitam/berminyak karena bekas gesekan punggung atau rambut kepala.
b. Hal-hal yang seringkali dilakukan oleh guru atau kepala sekolah
1) Karena tidak tersedia lahan parker kendaraan, guru memarkir kendaraan di selaras depan kelas. Akibatnya, permukaan lantai (keramik) tergores menghitam dan permukaan dinding tergores menghitam dan permukaan dinding tergores serang/spion kendaraan dengan meninggalkan bekas goresan menghitam atau permukaan cat lepas mengelupas.
2) Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, tidak mematikan lampu.
3) Memasang gambar, foto, papan pengumuman, majalah dinding, paoan statistik pada permukaan dinding atau partisi, menyebabkan permukaan dinding berlubang bekas paku atau bahkan plesteran dinding retak, pecah, atau mengelupas.
4) Membuang tisu bekas, abu dan putung rokok, serta bekas pembungkus makanan tidak pada tempatnya.
5) Memberikan contoh buruk kepada siswa dalam membuang sampah sembarangan dan lainnya.
c. Hal-hal seringkali dilakukan oleh penjaga sekolah
1) Pada saat membuka dan menutup dauin pintu/jendela, dilakukan dengan cara ditarik atau didorong/ditekan dengan keras sehingga mengakibatkan ram daun pintu/jendela bergelombang, tidak bisa ditutup dengan sempurna, engsel dan slot arus.
2) Tidak segera melakukan pengelapan permukaan lantai bekas tumpahan minuman sehingga permukaan lantai kusam karena bekas noda.
3) Tidak kontinu mengisi bak recervoir dan dibisrksn kosong. Jika terus-menerus berlangsung menyebabkan bak reservoir retak/bocor.
4) Jarang melakukan pembersihan closet, bak air, dan lantai KM/WC sehingga KM/WC terlihat kumuh, bau tidak sedap dan permukaan lantai licin.
5) Jarang melakukan pembersihan/penyapuan halaman sekitar gedung sehingga lingkungan terlihat kumuh.
6) Kebiasaan menyalakan pompa air tanpa pernah melakukan pengecekan kondisi air dalam pipa isap pompa. Akibatnya, pompa mengalami panas dan spul terbakar.
7) Salah satu bagian genteng lepas tidak segera dilakukan perbaikan/pemanasan kembali.
8) Lupa menutup dan mengunci pintu ruangan dan jendela. Akibatnya, barang-barang di dalam ruangan tersebut tidak aman.
9) Berharap orang lain akan membereskannya.
Secara umum, baik siswa, guru, kepala sekolah, penjaga sekolah masalahnya hampir sama, yaitu hanya mau menggunakan, tetapi mengabaikan pemeliharaannya.
d. Hal-hal yang seringkali dilakukan olehb masyarakat di sekitar sekolah
1) Menggembalakan ternak, menjemur pakaian/hasil bumi di halaman sekolah atau menjemur pakaian pda pagar sekolah, menyebabkan lingkungan sekolah menjadi kumuh.
2) Bermain bola dihalaman sekolah, ketika bola ditendang mengenai jendela kaca/genteng tersebut pecah atau dapat merusak taman-taman yang ada.
3) Salah anggapan bahwa sekolah dan pemeliharaannya adalah urusan Dinas Pendidikan, bukan sebagai milik mereka bersama.
3. Pengorganisasian
Tahap pengorganisasian merupakan tahap yang sangat penting. Pada tahap ini diatur dengan jelas siapa yang bertanggung jawab, siapa yang melaksanakan, dan siapa yang mengendalikannya. Pengorganisasian pengelola pemeliharaan melibatkan semua warga sekolah, yaitu kepada sekolah, guru, siswa, komite sekolah, dan tim teknis pemeliharaan. Organisasi membagi personel pemeliharaan berdasarkan waktu pemeliharaan sarana dan prasarana. Tim ini berasala dari unsure guru, wali murid, komite sekolah, dan anggota masyarakat. Pengorganisasiannya terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara, pelaksana teknis, dan surveyor.
Struktur organisasi yang telah dibentuk tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak dijabarkan dengan jelas tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya. Tugas, tanggung jawab, dan wewenang berfungsi sebagai panduan personel pemeliharaan dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan. Berikut ini DBE-1 & USAID dalam Barnawi dan Arifin (2012: 237) beberapa tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk tiap-tiap jabatan yang dapat dimodifikasi sendiri sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Kepala Sekolah
a. Memiliki tugas:
1) Bersama-sama dengan komite sekolah menunjuk personel yang akan dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan banguna gedung sekolah.
2) Membina hubungan kerja sama yang baik dengan guru, komite sekolah, wali murid, dan masyarakat yang ditunjuk selaku personel yang dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan.
3) Mengoordinasikan seluruh personel yang ditunjuk dengan memberikan arahan kebijakan, informasi, dan bimbingan dalam melaksanakan pemeliharaan gedung sekolah.
b. Tanggung jawab:
1) Bertanggung jawab penuh terhadap seluruh hasil yang dicapai dalam kegiatan pemeliharaan.
2) Bertanggung jawab terhadap pengelolaan gedung sekolah karena sarana penunjangnya.
c. Wewenang:
Mengadakan pengawasan, monitoring, dan evaluasi secara periodic terhadap seluruh kegiatan pemelihraan yang dilakukan oleh kelompok kerja.
Guru/Guru Kelas
a. Memiliki tugas:
1) Mencatat dan menyusun administrasi mengenai seluruh asset sarana dan prasarana yang dikelola pihak sekolah.
2) Memberikan pengertian atau pemahaman kepada seluruh siswa tentang pentingnya keikutsertaan mereka dalam menjaga bangunan gedung sekolah beserta saran penunjangnnya.
3) Memberikan informasi atau petunjuk dan bimbingan dalam menjaga kebersihan gedung dan lingkungannya.
b. Tanggung jawab:
1) Memeriksa dan menjaga kebersihan ruangan dan saran prasarannya sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar berlanngsung.
2) Memberikan motivasi melaksanakan kebersihan ruangan dengan memberi contoh kepada seluruh siswa dengan menyapu lantai atau membersihkan ruangan yang selanjutnya akan dilaksanakan seluruh siswa dengan pembagian tugas bergilir (piket) di masing-masing kelas.
c. Wewenang:
Mengadakan pengawasan, monitoring, dan evaluasi hasil kerja para siswa yang telah melaksanakan kegiatan pemeliharaan harian atau mingguan.
Ketua Komite Sekolah
a. Memiliki tugas:
1) Bersama kepals sekolah menunjuk personel yang akan dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan bangunan gedung sekolah.
2) Membina hubungan kerja sama yang baik dengan manajemen sekolah, anggota komite, wali murid, dan masyarakat yang ditunjuk selaku peersonel yang dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan.
b. Tanggung jawab:
1) Menyusun kebutuhan dan anggaran yang diperlukan untuk kegiatan pemeliharaan gedung sekolah.
2) Berkoordinasi dengan seluruh anggota komite yang lain dan bersama dengan wali murid menggalanng dana yang nantinya dipergunakan untuk melaksanakan pemeliharaan dan perawatan gedung sekolah.
c. Wewenang:
1) Mengadakan evaluasi terhadap hasil inventori kondisi gedung dan saran penunjangnya.
2) Menyetujui rencana dan tindak lanjut dalam penanganan pemeliharaan gedung selanjutnya.
3) Selaku pengawas seluruh kegiatan pemeliharaan termasuk di dalamnya adalah pengawasan pengelolaan anggaran kegiatan pemeliharaan.
Tim Teknis Pemeliharaan
a. Ketua Tim (coordinator):
1) Mengoordinasi tugas-tugas sekertaris, bendahara, surveyor, dan pelaksanaan teknis.
2) Menyusun rencana kerja, jadwal kerja, dan anggaran kegiatan pemeliharaan.
3) Mengoordinasi dan mengawasi pelaksanaan pemeliharaan bangunan gedung beserta saran penunjangnya.
4) Mengadakan inspeksi langsung secara teratur ke seluruh ruangan/bangunan untuk memeriksa kondisi kerusakannya.
5) Meneliti laporan dan masukan-masukan sebelum disampaikan kepada kepala sekolah dan komite.
6) Menerapkan prosedur panduan pemeliharaan gedung sekolah system pencatatan dokumen hasil survey, dan pengarsipan seluruh dokumen pelaporan dengan teratur.
7) Memelihara dan membina hubungan kerja dengan seluruh personel yang terlibat.
8) Bertanggung jawab penuh dan melaporkan hasil kegiatan kepada kepala sekolah selaku penanggung jawab kegiatan dan ketua komite sekolah selaku pengawas kegiatan.
b. Sekertaris:
1) Melakukan tugas-tugas administrative berupa pengarsipan dokumen sederhana, mencatatan notulen kegiatan rapat (koordinasi), dan hal-hal penting lainnya serta penyusunan pelaporan.
2) Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu berkoordinasi dengan ketua tim dan bertanggung jawab langsung kepada ketua tim.
c. Bendahara:
1) Melakukan pengelolaan, pencatatan, dan pelaporan keuangan dengan tertib dan penuh tanggung jawab.
2) Membuat pengajuan permohonan anggaran dana pemeliharaan yang diperlukan untuk kegiatan pemeliharaan dan perawatan.
3) Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu berkoordinasi dengan ketua tim dan bertanggung jawab kepada ketua tim.
d. Surveyor (pendataan):
1) Melakukan pendataan kerusakan-kerusakan seluruh komponen bangunan.
2) Melakukan dokumentasi, pengukuran, perhitungan, dan pencatatan seluruh kegiatan dan hasil pendataan kerusakan bangunan.
3) Menyusun pelaporan hasil pendataan dan disampaikan kepada ketua tim
4) Bertanggung jawab penuh kepada ketua tim.
e. Pelaksana Teknik:
1) Memimpin dan mengatur seluruh pekerja (tukang dan tenaga) dalam melaksanakan perawatan gedung sekolah agar terkoordinasi dengan baik,n sehingga dapat mencapai hasil sesuai dengan target dan sasaran serta spesifikasi teknis yang diisyaratkan.
2) Mempelajari dokumen bestek (gambar kerja, spesifikasi teknis, dan anaggaran pelaksanaan).
3) Menghitung kebutuhan material dan tenaga untuk melaksanakan perawatan bangunan.
4) Berkoordinasi dengan sekretaris dan bendahara dalam menyusun laporan maupun pengajuan anggaran perawatan.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan pemeliharaan terbagi menjadi pemeiharaan rutin dan pemeliharaan berkala. Pemeliharaan rutin bertujuan untuk menjaga sarana dan prasarana agar tetap dalam kondisi nyaman dan bertahan lama. Kegiatan mencakup membersihkan semua komponen didalam maupun di luar ruangan dan merapikan letak benda-benda oleh karena itu, dalam pemeliharaan rutin harus ada pembagian wilayah tugas dengan jelas, siapa bagian halaman, siapa bagian taman, siapa yang bagian ruang, dan lain-lain.
Kegiatan pemeliharaan rutin dapat menjadi sarana guru untuk mendidik karakter siswa agar sesuai dengan nilai-nilai universal. Nilai-nilai yang diharapkan muncull dalam diri siswa, diantaranya pwduli lingkungan, tanggung jawab, dan disiplin. Karakter pedulli lingkungan dapat muncul dalam diri siswa jika dibiasakan untuk menjaga kebersihan dan memelihara lingkungan agar tetap sehat dan nyaman untuk beraktivitas. Karakter tanggung jawab dapat muncul dengan menyadarkan kepada siswa bahwa rasa memiliki terhadap sekolah harus dimiliki oleh setiap warga sekolah. Sementara karakter disiplin dapat muncul melalui penjadwalan dan pengawasan piket pemeliharaan sekolah.
Daftar kegiatan pemeliharaan rutin untuk menjaga sarana dan prasarana tetap dalam keadaan baik sebagai berikut:
a. Sapu dan pel lantai ruang-ruang sekolah dan bagian beranda setiap hari supaya kebersihan tetap dijaga. Supaya lebih bersih, pendidikan perabotan pada ruang-ruang sekolah tiap minggu kemudian bersihkan lantai ruang-ruang secara keseluruhan.
b. Pemeliharaan kebersihan dinding dari kotoran atau gangguan sayap dan serangga lainnya. Apabila dinding menggunakan cat minyak atau cat air, dinding dapat dibersihkan dengan mmenggunakan sikat dan air bersih. Bersihkan jendela-jendela dengan menggunakan lap dan air bersih. Lakukan kegiatan ini secara teratur seminggu sekali.
c. Setelah kegiatan belajar mengajar berakhir periksalah kondisi seluruh bagian bangunan sekolah serta keamanannya.
d. Bersihkan WC setiap hari dengan menggunakan sikat dan air bersih.
e. Apabila terdapat wastafel pada gedung sekolah, wastafel tersebut dan saluran pembuangan air lainnya sebaiknya dibersihkan setiap hari.
f. Periksa dan rawat seluruh komponen-komponen gedung, beri pelumas pada engsel-engsel daun pintu dna jendela, kencangkan seluruh skrup pada bagian pegangan kunci, dan lain-lain secara teratur.
g. Periksa dan rawat perlengkapan kebersihan setiap hari. Kembalikan seluruh perlengkapan ke gedung atau tempat penyimpanan alat-alat kebersihan setelah digunakan. Pastikan seluruh perlengkapan dalam kondisi kering supaya tidak terjadi kelembapan diruang penyimpanan tersebut.
h. Potong dan rapikan rumput yang tumpuh pada sekeliling bangunan sekolah setiap hari (terutama pada musim hujan).
i. Bersihkan dan periksa parit/saluran pembuangan air pada sekeliling bangunan sekolah setiap minggu (terutama pada musim hujan).
j. Kumpulkan sapah-sampah yang ada. Bakar sampah-sampah tersebut pada tempat pembakaran sampah setiap hari atau setiap minggu (tergantung pada banyaknya sampah yang ada) dan timbun abunya (Wakeham dalam Barnawi dan Arifin, 2012:246).
Menurut Bafadal (2014: 48-53) berikut ini dikemukakan beberapa contoh pemeliharaan sehari-hari dan pemeliharaan berkala, sebagaimana dituntunka di dalam buku Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Barang Perlengkapan yang disusun oleh Dinas Pendidikan Nasional.
Perlengkapan yang dicontohkan berikut ini misalnya laboratorium, instalasi air, instalansi listrik, meja tulis, mesin stensil, dan almari besi. Pemeliharannya seperti berikut.
1. Laboratorium
a. Pemeliharaan sehari-hari
Seperti menyapu, mengepel lantai, membersihkan pintu, jendela kaca, dan lain-lain, dilaksanakan oleh petugas yang telah ditunjuk.
b. Pemeliharaan berkala
Sekurang-kurangnya sebulan sekali harus dikontrol atap dinding dan lainnya. Apabila ada kebocoran, keretakan, atau kerusakan lain dan bila tidak dapat diatasi oleh petugas yang bersangkutan, segera laporkan kepada pimpinan untuk segera diusahakan perbaikannya. Untuk pemeliharaan berkala ini dibuatkan kartu pemeliharaannya.
2. Instalasi air
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Setiap hari pemakaian air harus diperhatikan, setiap habis memakainya karan harus ditutup.
2) Bak penampung air, wastafel, dan lain-lain harus dibersihkan.
b. Pemeliharaan berkala
1) Sekurang-kurangnya sebulan sekali harus dikontrol, apakah pipa dan meteran air berjalan dengan baik atau tidak. Apabila terdapat pipa yang bocor dan tidak dapat diatasi sendiri oleh petugas, segera lapor pada pimpinan yang berwenang untuk perbaikannya.
2) Apabila meteran tidak berjalan dengan baik, segera laporkan kepada Perusahaan Air Minum (PAM) untuk segera diperbaiki. Kartu pemeliharaannya dapat disatukan dengan kartu pemeliharaan gedung yang bersangkutan.
3. Instalasi listrik
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pemakaian aliran harus diperhatikan. Pada siang hari, dalam ruang yang cukup terang, lampu dipadamkan. Demikian pula pada malam hari, pada ruang yang tidak perlu penerangan lampu dapat dimatikan.
2) Panel/kotak sikring diperiksa.
3) Bola-bola lampu diperiksa, bila ada yang diputus segera diganti.
b. Pemeliharaan berkala
1) Sekurang-kurangnya sebulan sekali instalasi harus dikontrol, terutama pada meteran pemakai, apakah ada kelainan pada meteran atau kelebihan pemakaian arus aliran (stroom). Jika ada, laporkan pada PLN. Pimpinan memberikan peringatan pada bawahan agar menghemat pemakaian aliran (stroom).
2) Instalasi jaringan kabel agar dikontrol, jika ada kerusakan yang tidak dapat diatasi sendiri oleh petugas, segera lapor pada PLN atau instalatur. Kartu pemeliharaannya dapat disatukan pada kartu pemeliharaan gedung.
4. Mesin tulis
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Membersihkan debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Memeriksa pita mesin apakah masih dalam keadaan baik atau sudah rusak.
3) Setiap habis dipakai, dibersihkan huruf-hurufnya, dan mesin ditutup kembali dengan tutup yang tersedia.
b. Pemeliharaan berkala
1) Apabila mesin setiap hari dipakai terus-menerus, sekurang-kurangnya sebulan sekali diminyaki dengan minyak pelumas yang bisa digunakan untuk mesin tulis.
2) Apakah pita mesin sudah tidak nyala lagi, agar segera diganti.
3) Sekurang-kurangnya 6 bulan sekali direparasi oleh tenaga ahli, jika ada kerusakan padakomponen-komponennya, perlu diperbaiki oleh tenaga ahli.
5. Mesin stensil
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pembersihan dari debu yang melekat pada tutup mesin dan pada mesin sendiri.
2) Periksa peralatannya, apakah ada kelainan atau kerusakan untuk siap pakai.
b. Pemeliharaan berkala
1) Dibersihkan setiap selesai dipakai.
2) Mengganti peralatan yang rusak.
3) Sekurang-kurangnya sebulan sekali diadakan pengecekan peralatan.
4) Sekurang-kurangnya 6 bulan sekali direparasi.
6. Mesin hitung
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pembersihan dari debu dan kotoran lain yang melekat
2) Pemakaiannya agar berhati-hati, sehingga alat-alat di dalamnya tidak mudah rusak.
b. Pemeliharaan berkala
1) Mengganti kertas strook bila habis.
2) Sekurang-kurangnya setiap bulan sekali, diadakan pengecekan keadaan peralatannya. Jika ada kerusakan sewaktu-waktu, segera diperbaiki oleh tenaga ahli.
3) Pelaksanaan pemeliharaan berkala sesuai dengan petunjuk dari pabriknya.
4) Untuk mesin hitung ini sama dengan mesin yang lainnya, dibuatkan kartu pemeliharaannya.
7. Filing cabinet/almari besi
a. Pemelihaan sehari-hari
1) Membersihkan debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Mengunci dan membuka serta menarik dan mendorong laci-lacinya dilakukan secara hati-hati.
b. Pemeliharaan berkala
Semua filing cabinet dan almari besi harus selalu dalam keadaan terkunci setelah habis jam kerja. Pemeliharaan berkalanya dicatat dalam kartu pemeliharaan, sama dengan lainnya.
8. Kipas angin
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Membersihkan dari debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Penempatannya agar sesuai dengan keperluan di tempat yang tidak mengganggu.
b. Pemeliharaan berkala
1) Pemindahan dari satu tempat ke tempat lain agar berhati-hati, kalau bisa tidak perlu banyak dipindahkan, karena mungkin akan membuatnya lebih cepat rusak.
2) Perbaiki bila ada kerusakan atau kemacetan.
9. Mesin tulis listrik
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Dibersihkan dari debu dan kotoran lain yang melekat.
2) Diperiksa peralatan apabila ada kelainan.
b. Pemeliharaan berkala
1) Setiap selesai memakai, kontak listrik harus dicabut.
2) Selesai memakai, ditutup kembali dengan penutupnya (plastik/kain).
3) Jika ada kerusakan, agar diperiksa dan dibetulkan oleh tenaga ahli.
10. Kalkulator
a. Pemeliharaan sehari-hari
1) Pembersihan dari debu/kotoran lain yang melekat.
2) Setiap habis memakai, kontak listrik agar dicabut.
3) Ditutup dengan penutup plastik/lainnya bila selesai memakainya.
b. Pemeliharaan berkala
Jika ada kerusakan, agar diperiksa dan dibetulkan oleh tenaga ahli.
11. Sound system
a. Pemeliharaan
1) Membersihkan dari debu dan kotoran lain yang melekat pada semua komponen.
2) Sebelum pemakaian, agar diperiksa peralatannya melalui tes suara.
3) Jika ada kelainan, dicari penyebabnya, dicek semua kontak.
b. Pemeliharaan berkala
Apabila ada kerusakan, segera diperbaiki oleh ahlinya. Pemeliharaannya dicatat dalam kartu, sebagai contoh, kartu pemeliharaan kelompok elektronik.
5. Pendataan
Pendataan saran dan prasarana dilakukan untuk menginventarisasi saran dan prasaran sekolah terkait dengan ketersediaan dan kondisinya. Petugas yang ditunjuk untuk menyurvei saran dan prasarana harus memahami komponen apa saja yang perlu diinventarisasi dan kondisi yang perlu diamati dan dicatat. Hasil pendataan akan sangat bermanfaat untuk mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasaran dan tuntuk kepentingan pelaporan. Selain itu, data hasil survei juga bermanfaat untuk mrngajukan pengadaan barang pengganti ke Dinas Pendaiaikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan selalu siap digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan.
Tujuan dalam pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan yaitu untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan, untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang optimal, untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pengecekan secara rutin dan teratur, dan untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut.
Pemeliharaan ada empat macam apabila ditinjau dari sifatnya, yaitu pemeliharaan yang bersifat pengeekan, bersifat pengecekan, bersifat pengecekan ringan, dan bersifat perbaikan berat.
Manfaat pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan sangat menunjang bagi keberlangsungan efektivitas Kegiatan Belajar Mengajar. Jika peralatan terpelihara baik umurnya akan awet yang berarti tidak perlu mengadukan penggantian dalam waktu yang singkat.
Tugas pengelola perlengkapan setelah mendapatkan barang selain memelihara adalah menata perlengkapan sarana dan prasarana pendidikan yang rapi dan tertib, serta penempatannya tidak mengganggu pada personal yang lain.
Menurut Barnawi dan Arifin (2012: 228) tahapan dalam memelihara sarana dan prasarana sekolah dapat dirumuskan menjadi 5P, yaitu Penyadaran, Pemahaman, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pendataan.
B. Saran
Hendaknya kepala sekolah sebagai administrator harus mengetahui langsung sarana prasarana apa saja yang ada disekolahan dan bagaimana keadaannya.
Melakukan sisi pencatatan yang tepat sehingga mudah diketahui dan di kerjakan.
Administrasi peralatan dan perlengkapan pengajaran harus senantiasa di tinjau dari segi pelayanan untuk turut memperlancar pelaksanaan program pengajaran
Kondisi-kondisi di atas akan terpenuhi jika administrator mengikutsertakan semua guru dalam perencanaan seleksi, distribusi dan penggunaan serta pengawasan peralatan dan perlengkapan pengajaran.
DAFTAR PUSTAKA
http://noerzusniyaap14.blogspot.com/2016/04/makalah-pemeliharaan-sarana-dan.html
https://www.google.com/search?q=gambar+memelihara+sarana+dan+prasarana+pendidikan&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwizp5fX2JThAhVBfysKHdCUDS4Q_AUIDigB&biw=1366&bih=667#imgrc=lRzFe2j-CxMyiM:
Langganan:
Komentar (Atom)